Meniti Pipa Demi Melihat Bekantan

July 02, 2018





Bekantan adalah satu dari sekian satwa langka yang bisa dilihat di Kota Balikpapan. Dataran rendah hutan tropis yang ada di Kota Balikpapan memang merupakan rumah dari banyak flora dan fauna khas hutan hujan tropis Kalimantan. Saya sempat beberapa kali menulis tentang lokasi untuk melihat bekantan di blog ini, seperti : menyewa kapal untuk menyusuri Teluk Balikpapan (long trip) atau Graha Indah (short trip). Saya lebih memilih menyewa kapal untuk menyusuri Teluk Balikpapan, selain uang yang dikeluarkan tidak jauh berbeda, durasi waktu yang lebih panjang, dan jika beruntung dapat melihat satwa langka lainnya, seperti : pesut, lumba-lumba, dan buaya muara.

Jika memang ingin benar-benar menghemat biaya dan memiliki akses untuk melihat bekantan di habitatnya, bisa dengan alternative meniti pipa milik pertamina yang berada di Somber, sebenarnya aktivitas ini illegal untuk dilakukan, mengingat resiko dan bahayanya. Tapi, justru pipa ini memberikan akses melihat bekantan yang paling baik (paling dekat) dan biasanya digunakan oleh mereka yang melakukan aktivitas fotografi alam atau melakukan survei awal keberadaan bekantan.

Dengan meniti pipa, kemungkinan besar kalau tidak bisa dikatakan selalu akan menemukan bekantan sedang beraktivitas (selama waktunya tepat dan tidak sedang hujan). Seperti yang pernah saya bahas di tulisan saya sebelumnya di blog ini, kondisi bekantan di lokasi ini seperti ‘enklosur’, bekantan dengan jumlah populasi yang cukup banyak sekitar 1300 ekor terisolasi dalam suatu wilayah (dan bahkan ada peneliti yang mengatakan bahwa kemungkinan bekantan yang ada di lokasi ini akan punah dengan sendirinya karena habisnya sumber daya pendukung – seperti yang dijelaskan melalui grafik log antara populasi dan sumber daya).

Pipa milik pertamina ini berada di dekat dengan pelabuhan feri lama yang dimiliki Kota Balikpapan, hutan mangrove yang ada dikepung oleh pemukiman dan kapal (umunya kapal pengangkut barang). Kondisi mangrovenya sendiri pun cukup menyedihkan karena banyaknya sampah plastik dan sampah anorganik lainnya yang tersangkut di akar-akar pohon mangrove, selain itu di sekitar pemukiman terdapat pabrik tahu-tempe yang membuang limbahnya begitu saja ke arah hutan mangrove Somber (jika ada yang mau bertanya kenapa dibiarkan, saya juga menanyakan hal yang sama, tapi sepertinya juga sudah tahu jawabannya, it’s complicated as usual).

Pipa yang biasa digunakan untuk berjalan menyusuri Somber ukurannya cukup besar dan jaraknya cukup jauh, sekitar 3 km, jika beruntung, saat menyusuri pipa bisa menemukan satwa lain yang menarik untuk diamati, seperti burung mangrove, biawak yang sedang berjemur, dan beberapa melihat buaya (walaupun kebanyakan hanya melihat matanya yang muncul dari dalam air). Saya pribadi adalah orang yang tidak bernyali untuk meniti pipa ini, saya hanya melakukannya satu kali karena diminta menemani rekan kerja dari Jakarta yang ngotot ingin melihat bekantan tapi sudah tidak punya waktu untuk menyewa kapal untuk menyusuri Graha apalagi Teluk Balikpapan. Walhasil saya berjalan seperti bekicot di atas pipa (karena takut dan gugup).

Mungkin, jika ada yang tertarik untuk melihat bekantan dari jarak dekat dan cukup bernyali untuk meniti pipa milik pertamina (karena cukup beresiko dan juga sebenarnya illegal walaupun selama ini masih saja dibiarkan), lokasi Somber adalah alternatifnya. Bagi yang menyukai fotografi alam dan ingin mengambil foto bekantan dari jarak dekat, lokasi ini juga menjadi lokasi terbaiknya.


Well, saya tidak menyarankan orang untuk melakukan kegiatan illegal yang beresiko, saya hanya ingin sekedar berbagi pengalaman, dan melihat bekantan melakukan aktivitasnya di habitat alaminya adalah hal menyenangkan tapi juga menyedihkan (karena kemungkinan kepunahan yang akan mereka alami). Ada yang berminat meniti pipa demi melihat bekantan?

You Might Also Like

0 comments