Liburan Singkat di the Red City: Marrakesh

July 12, 2017

Salah satu keuntungan tinggal di negara maju Eropa adalah tersedianya berbagai penawaran tiket pesawat murah ke berbagai negara di berbagai benua. Letak Eropa yang (merasa dirinya) berada di tengah-tengah dunia sangat menguntungkan mereka untuk melakukan berbagai penjelajahan keliling dunia. Jadi jangan heran mengapa di mana-mana turis dari Eropa atau Amerika mudah ditemukan.

Setahun yang lalu, ketika sedang berburu tiket murah ke Istanbul yang tak kunjung tiba, akhirnya kami memutuskan mengganti tujuan dari Turki ke Marokko. Mengapa? Karena kebetulan saya menemukan penawaran tiket low-cost airline Ryan Air yang cukup murah dari Bandara Düsseldorf Weeze (Jerman) ke Marrakesh (Marokko). Waktu penerbangan juga cukup singkat, hanya 3 jam 55 menit. Buat kami yang dari ndeso di pelosok Indonesia, ini amazing. Dengan waktu hanya 4 jam kurang, kami bisa sampai di Afrika.

Pewarna alami dan rempah-rempah di Souk Marrakesh
Setelah tiket berhasil dibooking, suami segera mencari tempat menginap yang murah dan nyaman untuk dua orang dewasa dan satu anak umur 3,5 tahun. Berhubung saat itu termasuk low season di Marrakesh (karena sedang musim panas di gurun), tidak terlalu sulit bagi kami mendapatkan kamar yang nyaman di tempat menginap yang bernuansa lokal. Horee.. off we go! Kabur dulu dari thesis yang bikin stress jiwa raga :D

Marrakesh yang dibangun tahun 1062 Masehi termasuk salah satu kota terpenting sekaligus kota terbesar ke-4 di Maroko. Maroko adalah salah satu negara yang terletak di kawasan Magribi Afrika Utara, antara Pegunungan Atlas dan Laut Mediterania. Maroko yang juga berbatasan darat dengan Spanyol, Eropa, menjadikannya salah satu pintu masuk imigran gelap dari Afrika yang ingin memasuki Eropa. 99% penduduk Marokko beragama Islam. Bahasa resmi di Maroko yaitu bahasa Arab dan Berber. Sebagai negara bekas jajahan Perancis, maka Bahasa Perancis pun menjadi bahasa yang secara luas dipergunakan oleh masyarakat.

Penduduk Marokko sebagian besar Arab dengan penampakan seperti layaknya orang Arab yang kita ketahui dan suku Berber, yang penampakannya ada kemiripan dengan orang Indonesia (Asia). Ketika kami naik bus kota sepulang dari wilayah kota baru, seorang Bapak mengajak suami mengobrol, menanyakan asal dari mana dan lain-lain. Lalu Bapak tersebut mengatakan, "Kalo istri Anda sendirian saja di jalan, pasti dikira orang lokal Berber. Tapi kalo orang melihat Anda dan anak saja, orang akan menyangka kalian dari Jepang."

Kembali ke cerita tentang Marrakesh, kami menginap di rumah tradisional Maroko yang disebut Riad, yang dilengkapi dengan taman atau interior dalam yang indah. Kami sengaja memilih Riad karena selain harganya lebih murah daripada hotel, juga karena kami ingin merasakan suasana asli khas Marrakesh. Riad-riad ini berlokasi di bagian kota tua Marrakesh yang disebut Medina. Medina Marrakesh dibangun oleh dinasti Almoravids pada abad ke-11. Keuntungan menginap di Medina yaitu kita hanya perlu berjalan kaki ke tempat-tempat tujuan wisata yang direkomendasikan untuk turis seperti Bahia Palace, Saadian Tomb, Jema El Fna dan lain-lain. Menuju pasar tradisional yang disebut Souk pun kami hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit. Kekurangannya adalah kami sempat kesulitan waktu pertama kali menuju ke sana, karena terletak di kota tua yang di dalamnya banyak terdapat jalan-jalan kecil berkelok seperti labirin.

Bagian dalam Riad, dengan interior khas Marokko plus kolam di tengah bangunan
Marrakesh dijuluki sebagai "The Red City" karena sebagian besar bangunan di kota ini berwarna merah. Kota ini sangat kaya warna, budaya, dan sejarah. Selain warna merah terracotta, warna-warna lain sungguh memanjakan mata saya, khususnya ketika kami berada di Souk (pasar tradisional). Indera penciuman saya pun di manjakan dengan berbagai wangi rempah dan bunga-bungaan yang dijual di pasar.

Seorang teman dari teman saya justru tidak menyukai traveling ke Maroko karena menurutnya, kondisinya khas negara berkembang: agak kotor, banyak orang miskin, banyak turis yang mengalami penipuan, banyak pria yang melakukan catcalling (menurut pengalaman teman dari teman saya), namun saya tetap terpesona dengan eksotisme Kota Merah ini. Syukurlah saya tidak mengalami di catcalling walaupun pernah satu kali sendirian menembus kota tua Medina Marrakesh pada suatu malam hari yang ramai. Hanya panggilan-panggilan pemilik restoran atau penjual saja yang memanggil-manggil saya untuk mampir.

Karena tujuan liburan singkat kami memang hanya melarikan diri sejenak (hanya 4 hari tiga malam), tidak ada target untuk mengunjungi semua tempat wisata di Marrakesh. Apalagi karena saat itu sedang musim panas yang suhunya mencapai 44 derajat dan bulan Ramadhan. Biasanya kami keluar pagi ketika matahari belum terlalu garang, dan kembali ke Riad sebelum jam 12 siang. Kami pernah keluar ketika matahari sedang sangat garang, dan si anak kecil berumur 3,5 tahun yang duduk di pundak bapaknya langsung kisut kayak bunga layu :)). Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Riad dan keluar lagi sore hari. Maghrib saat itu jam 20.00 kurang sedikit. 

Dalam buku The Journey of Ibn Battuta, saya membaca bahwa Marrakesh adalah salah satu kota yang pernah disinggahi oleh Ibn Battuta dalam perjalanannya. Di Marrakesh Ibn Battuta menaiki menara Masjid Koutoubia dan terkagum-kagum melihat pemandangan di sekitarnya. Walaupun tak sempat menaiki minaret setinggi 77 meter itu, kami merasakan bagaimana sholat tarawih di sana. Untuk berwudhu, saya hanya diberi satu ember kecil air oleh petugas di tempat wudhu, mungkin agar semua jemaah kebagian air wudhu di tengah-tengah musim panas ini. Karena datang mepet waktu tarawih, saya akhirnya meminta sedikit tempat di antara dua orang ibu. Mereka dengan ramah mempersilakan saya untuk duduk. Saya mengamati, para perempuan ini membawa botol air es yang diletakkan di sajadah mereka. Ternyata karena udara musim panas gurun yang sangat panas, di sela-sela salam mereka menyempatkan minum air. Ah..lagi-lagi saya jadi bersyukur jika mengingat segala keberlimpahan dan kemudahan bagi kita yang tinggal di Indonesia.

Minaret Masjid Koutoubia, Marrakesh
Jika berkunjung ke Maroko, salah satu buah tangan yang paling banyak ditawarkan adalah minyak argan (argan oil), yang konon katanya sangat berkhasiat untuk kulit dan kecantikan. Minyak argan yang berasal dari biji pohon Argan yang hanya tumbuh di pegunungan Atlas Maroko. Minyak argan ini biasa digunakan juga untuk memasak pasta atau kuskus. Merk-merk kosmetik ternama pun banyak yang mengeluarkan produk Argan oil murni atau produk yang mengandung Argan oil. Sayangnya dari pengalaman saya, sangat sulit menemukan Argan Oil asli.

Menuliskan kembali pengalaman ketika di Marrakesh hanya memunculkan keinginan untuk kembali ke sana. Semoga suatu hari nanti bisa berkunjung lagi :).   

Tips untuk traveling ke Maroko:
  1. Hindari berkunjung di musim panas (Juni-Agustus), lebih baik di musim semi (Maret-Mei) atau menjelang musim dingin.
  2. Cobalah menginap di Riad di kota tua yang biasanya terdapat di tiap kota besar tujuan wisata seperti Fes, Rabat, Marrakesh, dan Casablanca.
  3. Biasakan melakukan riset dan menawar sebelum berbelanja, karena banyak scam dan penipuan harga yang dialami para turis. 

You Might Also Like

3 comments

  1. Mauuuuuu
    Saya guru geografi cuma bisa cerita hasil kuliner mata d video atau buku paket aja... Mau ihhhhh

    ReplyDelete
  2. Kyaaa. Asyik banget. Next destination kemari ah. :))

    ReplyDelete
  3. jalan jalannya jauh kak Tatat mah... :)

    ReplyDelete