Pendidikan yang Dirindukan di Desa Menamang Kiri

May 31, 2017

Beberapa waktu lalu saya melakukan pengumpulan data kualitatif di sebuah desa bernama Desa Menamang. Desa ini terletak di Kabupaten Kutai Kertanegara. Desa yang diklaim oleh penduduknya merupakan desa tua, jauh ada sebelum agama samawi masuk ke Indonesia, khususnya Kalimantan Timur. Peradaban desa ini adalah peradaban sungai, berdiri karena adanya akses sungai, Sungai Menamang yang terbagi dan membagi menjadi Desa Menamang Kiri dan Desa Menamang Kanan. Desa yang dulunya kaya akan ikan, sumber pendapatan dan sumber makanan penduduk desa yang saat ini tidak lagi menghasilkan seperti dulu karena pencemaran yang terus berlanjut. 

Akses darat menuju desa ini cukup sulit, walaupun tidak terlalu sulit, saat itu saya menggunakan mobil double cabin agar dapat mencapai desa dengan lebih mudah dan dapat menghemat waktu tempuh. Jalan yang melewati perusahaan kayu kertas umumnya jalan keras berbatu (tapi belum merupakan jalan beraspal atau jalan cor), setelah berbelok menuju desa, jalannya merupakan jalan tanah liat yang sulit dilewati pada saat musim penghujan tiba bagi mobil-mobil biasa.

Desa menamang sekarang dikepung perusahaan kayu kertas dan perkebunan sawit, kepala desa memberi klaim bahwa dengan adanya perusahaan mengubah perekonomian masyarakat menjadi lebih baik walaupun gesekan tidak bisa dihindari. Masyarakat yang biasa hidup berladang pindah sekarang merasakan pekerjaan lain seperti menjadi karyawan, berdagang, dan lain sebagainya. Penghasilan yang mereka dapatkan juga semakin baik dan terutama terbukanya akses bagi mereka untuk mendapatkan kebutuhan seperti sandang dan pangan. Saat ini, hampir semua masyarakat Desa Menamang Kiri beralih dari peladang menjadi pekebun sawit. Mereka mengakui bahwa hasil sawit lebih menguntungkan, satu hektar kebun sawit menghasilkan 1 ton sawit dengan  harga sawit perkilonya 800-1200. Mereka juga tidak perlu repot-repot menjual, karena pembeli dari berbagai perusahaan yang ada di sekitar desa akan datang.

Banyak hal yang bisa saya ceritakan tentang Desa Menamang Kiri dari kunjungan singkat saya, bagaimana uniknya desa dan masyarakat yang hidup di dalamnya, tapi kali ini saya akan menceritakan tentang akses pendidikan yang didapakan oleh penduduk desa. Desa Menamang Kiri memiliki jumlah KK sebanyak 200an lebih KK tapi hanya memiliki satu buah sekolah, yaitu sekolah dengan jumlah staff sebanyak 6 orang. Kadang bangunan sekolah SD ini juga digunakan sebagai SMP dengan jumlah guru honorer yang lebih sedikit dari jumlah guru SD dengan penghasilan sekitar 400rban sebulannya. Saat sekolah dasar rutin dilaksanakan tapi tidak dengan SMP. Dalam foto yang saya tampilkan, di depan sekolah, ada 4 buah rumah dinas guru sekolah dasar yang tampilannya sangat sederhana. 




Tingkat pendidikan adalah satu dari sekian banyak hal yang melatarbelakangi gesekan antara masyarakat dengan perusahaan. Masyarakat mengharapkan perusahaan dapat menyerap penduduk usia produktif sebagai pekerja di perusahaan. Tapi perusahaan yang memiliki standar tentu saja akan sulit menerima pekerja dengan tingkat pendidikan SD dan SMP. Tingkat pendidikan ini hanya akan berakhir pada buruh lepas pada perusahaan kayu kertas atau pekerja lapangan pada perusahaan sawit.

Pendidikan memang merupakan barang mahal di Desa Menamang Kiri mereka harus pergi belasan kilometer sampai puluhan kilometer untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Akan  tetapi perekonomian Desa Menamang Kiri tidaklah buruk, saya melihat banyak rumah yang memiliki lebih dari 1 buah motor dengan kondisi baik, rata-rata memiliki motor 2-3 motor. Bahkan ada yang memiliki mobil double cabin, mobil inova, terios, dsb. Kemewahan yang didapatkan dengan berkebun sawit. 

Sejatinya tingkat pendidikan bukanlah sekedar untuk mencari nafkah, pendidikan lebih dari itu. Pendidikan membuka wawasan, membentuk pemikiran, dan menanamkan banyak hal dalam pikiran dan karakter pengenyam pendidikan. Saya kok jadi sedih melihat desa dengan jumlah KK lumayan banyak (bila digabung dengan Desa Menamang Kanan dengan jumlah KK sebanyak 300an) seharusnya bisa memiliki fasilitas pendidikan lebih dari yang ada sekarang).  Ah, kok saya jadi khawatir. Mereka yang muda-muda terlena dengan kemewahan tanpa perlu sekolah tinggi-tinggi. Tapi mungkin itu hanya perasaan saya saja. 

Saya berharap pemerintah daerah lebih memperhatikan hal-hal dan hak-hak dasar masyarakat seperti pendidikan. Ini adalah sebuah investasi. Toh pembangunan tidak sekedar diukur dari jumlah pendapatan warganya.





You Might Also Like

0 comments