Trip Bekantan di Teluk Balikpapan

April 28, 2017

Beberapa saat yang lalu, Pojok Lingkungan, salah satu kegiatan yang saya lakukan bersama teman-teman mengadakan Bekantan Trip. Niatnya, untuk mengajak adik-adik pelajar SMA dan perguruan tinggi untuk melihat bekantan langsung di habitatnya. Habitat bekantan di Balikpapan, tentu saja di Teluk Balikpapan dan sekitarnya karena merupakan mangrove yang merupakan habitat asli dari bekantan. Dalam trip ini, kami sengaja meminta Stan Lhota seorang peneliti Bekantan asal Ceko untuk ikut serta dan menjelaskan kepada peserta trip mengenai bekantan, ciri bekantan, habitat, pola perilaku, habitat, hingga ancaman yang didapatkannya.

(Photo : Ruslan - Protrip)

Bekantan trip sejatinya tidak hanya tentang untuk mengetahui bekantan dan habitatnya karena kegiatan outdoor memiliki banyak manfaat dalam membentuk persepsi hingga menstimulus aksi bagi pelakunya, terutama bila rutin dilakukan sejak masih kecil. Kegiatan outdoor memiliki banyak manfaat, terhadap diri sendiri, kegiatan outdoor mengajarkan pola yang ada di alam, menimbulkan rasa empati, serta membentuk untuk pola pikir holistik. Kegiatan outdoor menyadarkan bahwa manusia adalah bagian kecil dari sesuatu yang lebih besar.

Jumlah bekantan di Kota Balikpapan berkisar 1400 ekor, 1000 ekor berada di Teluk Balikpapan dan 400 ekor lainnya berada di Somber (pernah saya tulis sebelumnya, kepadatan ini akan membuat bekantan di Somber akan habis dalam waktu tertentu). Jumlah bekantan yang ada termasuk besar akan tetapi punya masa depan yang suram mengingat gempuran aktivitas manusia yang makin mendesak habitat bekantan, mulai dari pembangunan pemukiman, arus lalu lintas kapal, pembangunan kawasan industri, limbah, dan lain sebagainya.

Sepanjang perjalanan kami melihat banyak pohon tampak seperti meranggas, tidak berdaun, hanya batang dengan ranting-ranting gundul tanpa daun. Stan menjelaskan bahwa pohon-pohon tersebut adalah rambai laut, pohon yang daunnya merupakan makanan favorit bekantan, jumlah pohon yang sedikit tidak dapat mendukung jumlah bekantan sehingga daun terus dimakan tanpa sempat beregenerasi. Hal yang menyedihkan, saat pohon tersebut mati, maka yang kemudian menggantikan bukanlah pohon yang sama akan tetapi jenis lainnya. Hal ini karena rambai laut merupakan tumbuhan perintis di habitat mangrove. Tumbuhan perintis adalah tumbuhan awal yang tumbuh dalam suatu habitat.

Banyak dari peserta Trip Bekantan yang baru kali itu melihat langsung bekantan dan habitatnya. Awal yang menyedihkan, mengetahui sesuatu yang baru saat sesuatu mulai terancam keberadaannya. Kekayaan hayati yang bernilai ekonomis tanpa upaya konservasi serius. Melihat pohon-pohon mangrove meranggas di satu lokasi, land clearing untuk kegiatan industri di lokasi lainnya sungguh menimbulkan perasaan hopeless. Bekantan adalah satwa endemik Pulau Borneo, termasuk di dalamnya Indonesia dengan Kalimantan, Brunei Darusallam dan Malaysia. Bekantan hanya dapat hidup di kawasan mangrove, hanya dapat makan tumbuhan mangrove. Memindahkan bekantan dari habitatnya memberikan makanan yang bukan makanannya adalah membunuh secara perlahan.

Kegiatan outdoor Trip Bekantan, mungkin saja tidak memberi perubahan yang nyata. Tapi kami berharap setiap orang yang saat itu ada di atas kapal yang sama, melihat habitat bekantan yang sama, melihat populasi bekantan yang sama akan menyadari hal yang sama. Bahwa kekayaan yang dimiliki Kota Balikpapan berupa keanekaan hayati ini sedang dalam kondisi terancam dan butuh perhatian banyak orang untuk menjaganya tetap ada, bertahan dari gempuran aktivitas ekonomi atas nama mensejahterahkan masyarakat.  Hal yang sama dan terjadi di semua wilayah Indonesia, saat kekayaan hayati dianggap kurang bernilai. 


“Destroying rainforest for economic gain is like burning a Renaissance painting to cook a meal.” 
― Edward O. Wilson

You Might Also Like

0 comments