Traveling Man: The Journey of Ibn Battuta

March 04, 2017

Buku berjudul "Traveling Man: The Journey of Ibn Battuta, 1325-1354" kami pilih untuk mengawali sesi resensi buku di Jejak Katumbiri minggu ini. Sesungguhnya buku ini adalah sebuah buku yang oleh penulisnya, James Rumford, ditujukan untuk anak-anak. James Rumford sendiri menulis dengan menyarikan dari autobiografi Ibn Battuta, serta menambahkan peta Arab kuno yang dihiasi warna-warni untuk menarik minat anak-anak.

Siapa tidak kenal Ibn Battuta? Kita boleh berbangga, karena Ibn Battuta tidak hanya dikenang sebagai pengembara besar oleh orang Muslim, namun juga dianggap sebagai "one of the greatest travelers of all time."

Pic from Google Books

Dalam tulisan autobiografinya, Ibn Battuta menulis tentang catatan perjalanannya serta asal-usul darimana dia berasal. Di situ Ibn Battuta menulis, bahwa dia adalah seorang keturunan Rumpun Keluarga Lawata, bagian dari Suku Berber, yang merupakan suku asli penghuni Afrika Utara, khususnya di  Maroko dan Tunisia. Ibn Battuta lahir tahun 1304 dalam sebuah keluarga akademisi Islam di Tangier, Maroko pada masa dinasti Marinid. Ibn Battuta muda mempelajari mahzab Sunni Maliki, sebelum akhirnya bersiap untuk melakukan perjalanan. Ibn Battuta memulai perjalanannya pada bulan Juni tahun 1325, ketika berumur 21 tahun. Tujuan utamanya adalah menuju ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji, perjalanan yang hingga saat ini tetap aktual khususnya bagi orang Muslim.

Buku ini menceritakan perjalanan Ibn Battuta yang berawal dari kampung halamannya di Tangier, Marokko, lalu menelusuri Afrika Utara, melalui Russia, pantai Tanzania, India, hingga ke China, bahkan Sumatera pada tahun 1346.

Pada tahun kedua perjalanannya, Ibn Battuta mencapai Jerusalem, yang ketika itu masih dianggap sebagai pusat dunia, saat bumi masih dikira datar. Dari Jerusalem, Ibn Battuta selanjutnya menuju ke Makkah, tanah suci yang diimpikan umat Muslim.

Terdapat ilustrasi yang menarik hati ketika Ibn Battuta sampai di Istanbul pada tahun 1332. Di situ tertulis bahwa Ibn Battuta berdiri di sebelah ayah dari sang Kaisar Kristen yang saat itu berkuasa. Ayah sang Kaisar menyentuh tangan dan kaki Ibn Battuta karena dia sudah pernah ke Jerusalem, kota yang dianggap suci oleh tiga agama besar: Yahudi, Kristen, Islam.

Ilustrasi lainnya yaitu: ilustrasi Ibn Battuta dalam pakaian ihram ketika naik haji, ilustrasi ketika kedinginan di Russia, ilustrasi ketika mendarat di Sumatera dan disambut hangat oleh kapal penduduk asli yang penuh dengan buah-buahan dan ikan segar, serta tak lupa ilustrasi ketika Ibn Battuta kembali ke Marokko dan singgah di kota Marrakesh dan menaiki menara masjid di sana.

Bagian yang cukup menyentuh saya adalah ketika berpamitan kepada kedua orang tuanya, Ibn Battuta pada awalnya hanya berniat untuk melakukan perjalanan haji ke tanah Suci dan berjanji untuk kembali. Ternyata, Ibn Battuta baru kembali ke tanah airnya 29 tahun kemudian, ketika orang tuanya telah tiada.

"Into this arabesque of pictures and maps is woven the story not just of a traveler in a world long gone but of a man on his journey through life." -- Traveling Man (cover).

Seperti kutipan dalam cover, buku ini tidak hanya merupakan catatan tentang sebuah perjalanan yang mencakup naik apa, ke mana, dengan siapa, tapi juga kesan yang mendalam tentang pengalaman, orang-orang yang ditemui, dan berbagai tempat yang didatangi. Pemahaman saya terhadap buku kecil ini jelas, bahwa perjalanan memang memperkaya kita. Dari buku ini kita (dan anak-anak) juga belajar banyak bagaimana pada masa itu, sebuah perjalanan hidup mengarungi lautan dan daratan dunia serta merekamnya dalam sebuah catatan perjalanan bukanlah hal yang mustahil. Apalagi saat ini, di masa perjalanan (hidup) dan menulis dapat dilakukan dengan bantuan berbagai kemudahan teknologi πŸ˜‰

Di bagian akhir buku diceritakan bahwa ada seorang anak yang berkata kepada Ibn Battuta, berharap agar dia juga bisa pergi melihat apa yang pernah dilihat Ibn Battuta. Ibn Battuta menjawab, "You can.... Traveling--all you do is take the first step."

Buku ini termasuk salah satu buku anak-anak yang sangat direkomendasikan di Amerika Serikat dan telah mendapatkan berbagai penghargaan seperti ALA Notable Children's Book, A School Library Journal "Best Book", Middle East Outreach Council Best Picture Book for Children and Young Adults, dan penghargaan-penghargaan lainnya.

Sebelumnya saya tentu sering mendengar tentang Ibn Battuta, seorang pengembara dan akademisi Muslim yang hebat. Tapi entah itu guru mengaji atau guru agama di sekolah semasa saya kecil dulu tidak ada yang pernah menceritakannya secara rinci. Keterbatasan sumber bacaan juga menjadi salah satu faktornya. Padahal andaikan pelajaran agama isinya tidak hanya berupa hapalan dan kisah-kisah Nabi dan Rosul, tapi juga cerita-cerita tentang kaum cerdas cendekia Muslim pun sangat penting untuk diperkenalkan. Mungkin akan terbentuk generasi Islam yang lebih mampu berpikir kritis dan cerdas mencari solusi.

You Might Also Like

10 comments

  1. Aaahhh..iya.
    Kenapa guru ngaji atau guru agama ga menceritakan dengan detail sejarah cendikiawan muslim dan lebih terpaku pada hafalan ya? :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Kalopun dikenalin ttg itu, cuma disebut namanya aja 😒

      Delete
  2. Inspiratif dan informatif kak 😊 iya jaman sekolah cuma tau sekilas-sekilas aja tentang para kaum cendekia muslim. Jadi tau deh ini, makasih kak infonyaa 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Kade,
      Yuk kita lebih banyak baca *pecut diri sendiri *walopun bukunya banyakan buku anak2 😁

      Delete
  3. yup, tugas kita , saya, orang tua jaman sekarang memberikan bacaan yang mencerdaskan. Ada banyak tokoh muslim yang keren ! Lebih dari superhero barat. :-)

    ReplyDelete
  4. ini siapa yang punya bukunyaa? pinjem doong...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akoh punya..tapi kalo di perpus mah ini disimpan di bagian "Referensi", yang hanya bisa dibaca di tempat, karena bukunya juga tipis aja :D

      Tatat

      Delete