Nongkrong di Perpustakaan Daerah Kuningan

March 16, 2017

Seperti pernah ditulis di sini, kami paling suka nongkrong di perpustakaan. Jaman dahulu kala di Kuningan, waktu saya duduk di bangku SD dan SMP, tempat favorit yang biasa saya kunjungi adalah taman bacaan. Taman bacaan tempat yang menjanjikan sejuta cerita, yang bisa membawa saya jalan-jalan ke Jepang bersama Mari-Chan dan Candy-candy, atau jalan-jalan ke pelosok pedesaan Inggris bersama Lima Sekawan, atau bertualang di sekitar Rocky Mountain Amerika Serikat bersama Trio Detektif.

Ketika tahun-tahun saya di SD, taman bacaannya bernama "Fajar", berlokasi di sekitar Plaza Kuningan (saat ini sudah tidak ada, digantikan oleh Taman Kota). Saya dan kakak-kakak sering menyewa setumpuk komik, yang harga sewa satu bukunya hanya Rp. 250, yang kami baca diam-diam di kamar atau di WC agar tidak kena marah Ibu kami. Ibu menganggap komik menyebabkan kami malas belajar. Padahal walaupun rajin membaca komik, pelajaran sekolah kami baik-baik saja. Pernah suatu waktu kami ketahuan! Setumpuk komik sewaan dari Taman Bacaan Fajar harus berenang-renang di kolam ikan sebelah rumah. Yups..Ibu saya memang setegas itu jika menyangkut urusan sekolah -_-.

Tak lama ketika Saya duduk di bangku SMP, Taman Bacaan Fajar gulung tikar. Mungkin karena terlalu banyak penyewa yang tidak tertib semacam kami :p. Lalu kami menemukan taman bacaan baru di Perum yang bernama Taman Bacaan "Bocil." Komik dan novelnya tidak selengkap di Taman Bacaan Fajar, tapi lumayan lah. Daripada nihil. Berharap ada perpustakaan sekolah atau perpustakaan dari pemerintah yang mumpuni adalah kemustahilan saat itu.

Hingga beberapa tahun lalu, ketika mudik, saya menyadari, bahwa bangunan Taman Kanak-Kanak tempat saya bermain di sana waktu umur 4-6 tahun yang berada di depan SMP N 1 Kuningan, tidak jauh dari Kantor Bupati,  sudah tidak ada! Sebagai gantinya, bangunan satu lantai warna putih dengan plang "Perpustakaan Daerah Prof. DR. Edi S. Ekadjati" berdiri di sana. Awalnya saya sedih karena bangunan taman kanak-kanak bersejarah itu tidak ada lagi di sana. Namun saya juga merasa senang. Setidaknya, ada perpustakaan resmi milik pemerintah di Kuningan.


Minggu lalu, akhirnya rasa penasaran saya untuk mengunjungi Perpustakaan Daerah Kabupaten Kuningan tersebut tertuntaskan. Saya memutuskan mengajak Alif ke sana untuk mengisi waktu agar si bocah tidak bosan, sekaligus agar saya bisa mendapatkan akses internet gratis. Perpustakaan ini lokasinya tepat di seberang SMP tempat Ibu saya mengajar, jadi kami nebeng hingga persis di depannya. 

Perpustakaan daerah ini sekaligus kantor dinas kearsipan kabupaten Kuningan, yang dinamai dengan nama Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, seorang sejarawan sekaligus guru besar di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, yang lahir di Jatinunggal, Karangtawang, Kuningan. Alm. Prof. Ekadjati juga ternyata merupakan Uwa dari sahabat kami, Novrizal. Perpustakaan ini dinamai dengan nama Beliau untuk mengenang pengabdian dan karya-karya akademiknya.

Di pintu depan pengunjung harus mengisi nama dan nomor anggota/instansi di mesin penghitung pengunjung. Terdapat pula beberapa locker lengkap dengan kunci. Selesai mengisi mesin tersebut, pemandangan yang tampak adalah meja-meja pegawai yang sebagian besar kosong. Beberapa pegawai yang ada tampak santai duduk-duduk dan mengobrol. Seorang bapak menanyakan saya mencari buku apa, lalu menunjukkan beberapa rak buku di mana terdapat buku untuk anak-anak. 

Awalnya saya mengira perpustakaan ini tidak ada pengunjungnya :p hihi..ternyata ada juga pengunjungnya, walaupun tidak sampai penuh. Terdapat sekitar lima komputer yang bisa dipergunakan oleh pengunjung. Beberapa pengunjung terlihat sedang memakainya. Ketika bertanya WiFi, Si Bapak memberitahu dengan ramah. Horee...lumayan..ada internet cepat dan gratis. 

Setelah menyelesaikan beberapa e-mail, saya mulai mengelilingi perpustakaan dan melihat-lihat. Rupanya tempat penyimpanan buku dan arsip daerah benar-benar digabung di bangunan satu lantai yang tidak terlalu luas ini. Di atas beberapa rak terdapat tumpukan buku/dokumen yang terlihat tua dan masih terikat tali. Terdapat juga kardus-kardus besar yang diluarnya tertera nama instansi. Dugaan saya, kardus-kardus tersebut berisi buku-buku sumbangan. 

Sementara itu untuk buku-bukunya, merupakan campuran antara buku lama dan buku baru. Yang sedikit menyulitkan, buku-buku untuk anak-anak tidak dipisahkan berdasarkan umur. Buku untuk usia taman kanak-kanak digabung begitu saja dengan buku-buku dewasa. Terdapat sedikit kategori yang saya lihat di satu rak, yaitu kategori buku agama. Sisanya, penempatan buku hanya berdasarkan nomor rak. Terdapat koleksi buku-buku yang menarik untuk anak-anak dan balita, misalnya buku-buku tentang sains, dan lain-lain.

Ketika Alif ingin ke toilet, kami menuju ke tanda yang menunjukkan arah toilet di satu pojok. Ada dua toilet di situ, yang satunya rusak dengan pintu terbuka, sementara yang satunya pintu tertutup dengan tulisan "Toilet Rusak" di pintunya. Lalu seorang pengunjung mengarahkan kami ke toilet lain di seberang ruangan. Menjelang siang, saya melihat satu pegawai masuk dan menggunakan toilet yang bertuliskan "Toilet Rusak" tersebut -_-. 

Di bagian luar perpustakaan terdapat mading kaca yang berisi berbagai pengumuman. Di situ saya melihat beberapa pamflet dari tahun 2016 berisi sosialisasi kegiatan perpustakaan, untuk berusaha menarik pengunjung. Kegiatan-kegiatannya yaitu: bazaar buku, pelatihan karya tulis, doorprize, pelatihan pustakawan, pelatihan baca tulis, dan sebagainya. Di parkiran juga terdapat satu buah mobil perpustakaan keliling. 

Untuk menjadi anggota, persyaratannya adalah:
  1. Membawa 1 copy KTP (harus KTP Kuningan)
  2. Membawa foto ukuran 2x3 dua lembar
  3. Membayar biaya administrasi Rp. 7500 (per tahun) 
Setelah menjadi anggota, kita bisa meminjam gratis maksimal dua buku selama 1 minggu. Jika terlambat mengembalikan, setiap buku dikenakan denda Rp. 200/ hari. Tentu jumlah buku dan lama peminjaman ini terlalu sedikit dan terlalu sebentar. Ketika menyampaikan ini, seorang Ibu di bagian pendaftaran menjelaskan, bahwa sebelumnya waktu peminjaman lebih lama dan buku yang boleh dipinjam lebih lama. Sayangnya banyak anggota yang tidak mengembalikan, sehingga akhirnya dijadikan seperti sekarang.

Jika mengingat sebelumnya sama sekali tidak ada perpustakaan daerah di Kuningan, segitu adanya sudah lumayan. Tapi alangkah baiknya jika kardus-kardus dan tumpukan buku yang terikat tali dibereskan agar perpustakaan lebih rapi dan nyaman. Kardus-kardus dan tumpukan buku tersebut menjadikan perpustakaan ini suasananya seperti gudang. Belum lagi kondisi toiletnya yang rusak dan yang katanya rusak tadi. Jumlah colokan pun tampaknya sangat terbatas, hanya ada satu di pojokan dengan meja lesehan yang dekat dengan tumpukan kardus. Tentu juga akan lebih nyaman jika disediakan ruangan khusus atau minimal, rak khusus untuk buku anak-anak.    

Nah..kalo ada yang nanya apakah saya akan kembali lagi ke sana jika kebetulan sedang di Kuningan? Jawabannya: dengan senang hati! Seminimalis apapun kondisinya, kunjungan dan masukan ke perpustakaan ini tampaknya dirindukan agar bisa terus memperbaiki diri (seorang bapak yang mengaku pengunjung setia mengatakan ini pada saya). Selain itu, internet gratisnya lumayan banget buat para fakir WiFi 😁.

Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Kuningan
Jl. Siliwangi depan SMPN 1 Kuningan
Jam buka
Senin - Kamis: 07.00-14.30
Jumat             : 07.00-14.00

You Might Also Like

6 comments

  1. menyenangkan ya kalo ada perpusda di daerah tempat tinggal kita. Kalo di sukabumi katanya ada, tetapi daku belum pernah mencoba untuk berkunjung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..lumayan daripada ga ada 😁.

      Sok atuh coba kunjungi sama Arden..ntar tulis hasil kunjungannya

      Delete
  2. Semoga suatu hari perpustakaannya juga bisa di-digitalisasi seperti Yogyakarta. :))

    Keep sharing!
    www.iamandyna.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga...πŸ™‡
      Semoga makin banyak perpus keren yang gampang diakses masyarakat di mana-mana di Indonesia

      Delete
  3. wah keren, sampe umur segini aq masih baca komik hahaha.. etapi koq cuma boleh yg ktp kuningan aja :(
    Di Tangsel blm ada tempat kaya gini :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga kadang2 masih baca komik..kalo ada pinjeman gratis 😁

      Di Tangsel belum ada perpusda ya? sayang banget.

      Delete