Bunga Penutup Abad

March 24, 2017

"Batara Kala telah menyorong Annelies melalui jarak-jarak, aku sendiri disorongnya melalui jarak-jarak yang lain, makin berjauhan, makin tak tahu apa bakal jadinya." -- 

Sejak pertama kali membaca Tetralogi Pulau Buru yang terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca bertahun-tahun lalu, saya tak bisa berpaling lagi dari karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Terutama sekali kisah tentang Minke ini, sungguh mengiris hati menggugah rasa. Bukan, bukan sekedar tentang kisah cintanya dengan Annelies, tapi keseluruhan cerita yang menggambarkan nasib dan penderitaan bangsa jajahan yang menderita bukan hanya karena si penjajah Eropa yang berkulit putih dan bermata biru, tapi juga kepiluan si miskin yang dijajah oleh kaum kaya dari kalangan bangsa sendiri.

Senang rasanya saat mengetahui bahwa penggalan cerita dari karya Pram yang paling fenomenal akan diangkat lagi ke pentas teater oleh Titimangsa Foundation, sebuah yayasan yang digagas oleh Happy Salma. Sekitar tahun 2011 saya secara tak sengaja pernah menonton teater "Nyai Ontosoroh" di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis Jakarta. Sayangnya saya tak begitu ingat detailnya, mungkin karena waktu itu kaca mata saya rusak dan tidak bisa melihat dengan jelas.

Gambar dari siagaindonesia.com
Teater Bunga Penutup Abad ini diambil dari buku Bumi Manusia dan Anak Segala Bangsa, berdasarkan surat-surat yang ditulis oleh Robert Jan Dapperste alias Panji Darman yang menemani Annelies berlayar dari Surabaya hingga ke Amsterdam. Setiap surat yang sampai dibacakan oleh Minke untuk Mama, Nyai Ontosoroh. Bunga Penutup Abad sendiri adalah nama yang diberikan oleh Minke untuk lukisan Annelies yang dibuat oleh Jean Marais, lukisan yang menampilkan kecantikan dan kepolosan Annelies.

Bunga Penutup Abad digarap oleh penulis naskah, musisi, serta para pemain yang telah mempunyai nama besar di Indonesia. Misalnya Wawan Sofwan sebagai sutradara dan penulis naskah, dr. Tompi sebagai fotografer, penata musik Ricky Lionardi, penata kostum Deden Siswanto, dan para pemain Reza Rahadian (sebagai Minke), Happy Salma (Nyai Ontosoroh), Lukman Sardi (Jean Marais), dan Chelsea Islan (Annelies Mellema).

Yang paling membuat saya kagum adalah akting dari Happy Salma yang memerankan Nyai Ontosoroh dan Lukman Sardi yang memerankan Jean Marais, sahabat Minke yang berasal dari Perancis. Nyai Ontosoroh dalam bayangan saya benar-benar diwujudkan dengan sempurna oleh Happy Salma, sebagai perempuan kuat dan mandiri yang telah mengalami dan menghadapi kerasnya kehidupan dengan caranya sendiri. Nyai Ontosoroh yang adalah Nyai (gundik) seorang Belanda, sungguh memiliki kecerdasan brilian dan keanggunan melebihi para wanita priyayi, indo bahkan melebihi para noni Belanda. Dengan kekuatan dan kecerdasannya dia berusaha melindungi keluarga dan perusahaan yang dia bangun dengan tangannya sendiri. 

Sementara itu tokoh Minke, yang menurut saya agak menye-menye sebagai laki-laki, dengan dorongan Nyai Ontosoroh dan Jean Marais akhirnya berhasil keluar dari kesedihan karena ditinggal Annelies dan melanjutkan karier menulisnya dan mulai menulis dalam Bahasa Melayu, bahasa yang dipahami oleh rakyat negeri jajahan ini (sebelumnya Minke selalu menulis dalam Bahasa Belanda). 

Setiap kali membaca ulang atau menonton kisah dari Pram ini, perasaan saya selalu sukses diaduk-aduk dan teriris-iris, seolah ikut memrotes ketidakadilan dunia yang sayangnya, terus berlangsung hingga saat ini. Seperti yang ditulis oleh Ahda Imran, "Melalui sosok Nyai Ontosoroh dan Minke, Pram menyuarakan kesadaran kemanusiaan kaum bumi putera, ketika kekalahan adalah juga kemenangan untuk terus melawan." Pram meninggalkan warisannya yang paling penting, yaitu, keberanian untuk melawan setiap kekuasaan yang menindas (Ahda Imran).

Sejak tiket pentas teater Bunga Penutup Abad di Bandung mulai dipasarkan, peminatnya luar biasa. Tiket terjual habis-bis dan di hari H semua kursi terisi penuh. Kaum muda mendominasi kursi penonton. Entah apakah karena faktor daya tarik para pemain, atau memang mereka benar-benar tertarik dengan cerita dan buku-buku Pram. Pertunjukan ini membuktikan bahwa karya sastra Indonesia tetap aktual dan dapat diangkat dengan kemasan kekinian sehingga lebih mudah diapresiasi oleh masyarakat terutama generasi muda (Renitasari Adrian). 

Ketika pertunjukkan selesai dan hendak keluar dari gedung, saya mencuri dengar pembicaraan orang yang mengatakan "Wah..jadi penasaran nih pengen baca bukunya." Walaupun tergoda untuk mengomentari dengan sinis "Apa, belum pernah baca bukunya Pramoedya Ananta Toer?", tapi akhirnya saya memutuskan cara lain, untuk meresponnya (dalam hati) dengan "Ya..baguslah..paling tidak teater ini mendorong keinginan orang untuk membaca bukunya" 😁. #staypositive #saynotosiniscm. Sementara itu, suami saya yang menonton teater ini sendirian menceritakan dengan bangga, bahwa dia berhasil memungut gelas kaleng yang dilempar oleh Annelies (Chelsea Islan) dari panggung..haha.

Para penyanyi opera, musisi serta para staf pendukung opera/teater di setiap kota-kota Eropa dianggap salah satu pekerjaan yang cukup stabil (pengalaman menonton opera di Volksoper Wien silakan klik di sini). Jika melihat antusiasme penonton "Bunga Penutup Abad" dan teater-teater lainnya baru-baru ini, mungkin keberlangsungan kehidupan teater beserta para pemusik, artis, dan staf pendukungnya di Indonesia bukan lagi sekedar angan-angan seperti di Eropa. Ah.. Saya jadi ketagihan nonton teater.. Semoga semakin banyak karya-karya berkualitas seperti ini kedepannya.

You Might Also Like

6 comments

  1. haduh sayang banget buat orang-orang yang belum baca bukunya. gimana dia menikmati ceritanya. Jadi penasaran. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entahlah..haha..mungkin karena mereka tertarik sama para pemain yg emang beken dan keren 😁

      Delete
  2. Berulang kali baca ini bikin makin baper krn dr dulu cmn dapat cerita saja akan buku legendaris nya promoedya...

    Tp aku selalu menikmati dapat cerita akan isi buku nya ��

    By. Kukum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi bapernya bukan jenis baper menye2 kok..percayalah. Menurut saya Karya-karya Pram terutama yg tetralogi Pulau Buru seharusny dijadikan bacaan wajib di sekolah, layak dipelajari oleh generasi muda biar lebih mengenal sejarah bangsanya πŸ™‡

      Delete
  3. Lapoor saya (dulu) hanya baca bumi manusia dan (sekilas )anak semua bangsa.
    Kalau winnetou lengkap 4seri
    #ganyambung :-)

    ReplyDelete