Pengalaman Terbang dengan Thai Airways

February 10, 2017

Pengalaman terbang dengan Thai Airways ini sebenarnya sudah pernah saya tulis lengkap tahun lalu, tapi tiba-tiba kehapus dan menghilang begitu saja. Wuss! Saat itu saya hanya bisa menatap nanar dan merutuk diri sendiri. Huh..ya sudahlah ya, tulis lagi aja.

Pengalaman naik Thai Airways kami rasakan hampir tiga tahun yang lalu, ketika Saya, suami dan si Alif yang waktu itu masih 16 bulan, memutuskan merantau ke Jerman untuk melanjutkan sekolah. Kami memilih Thai Airways untuk rute Jakarta-Frankfurt karena pada tanggal keberangkatan kami (sekitar akhir Maret 2014), harganya paling murah di skyscanner. Harga saat itu adalah 560 Euro untuk 1 orang satu arah. Kami membeli tiket sekitar 2-3 minggu sebelum waktu keberangkatan. Saya sih tidak ada fanatik terhadap perusahaan penerbangan tertentu, apapun yang murah saat itu, asalkan ulasan standar keamanannya bagus, ambil saja. Aspek kenyamanan sih masih bisa dikompromikan, namanyapun dana pas-pasan. *tiket keberangkatan tidak direimburse penuh*

Untuk rute Jakarta menuju Frankfurt, pertama kali kami terbang Jakarta - Bangkok selama 3,5 jam, lalu transit di Bangkok sekitar 7 jam, dan dilanjutkan Bangkok - Frankfurt selama 11 jam 15 menit. Untuk rute Jakarta - Bangkok, waktu itu kami naik pesawat kecil Airbus A330, bukan model Airbus A380 atau Boeing 777 yang besar. Tidak ada On-Demand TV (TV di kursi masing-masing penumpang), hanya ada Overhead TV. Untung perjalanan hanya 3,5 jam, bisa dipakai tidur. Makanan untuk rute ini tidak terlalu spesial, enak standar makanan pesawat.

Sesampainya di Bandara Suvarnabhumi Bangkok, kami segera berkeliaran mencari jajanan khas Thailand yang terkenal enak-enak. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Thailand, jadi agak norak-norak bergembira pengen jajan ini itu, walaupun hanya di bandara saja.

Interior Thai Airways A380 yang bernuansa ungu. Gambar dari Thai Airways Australia
Yang ada di kepala saya saat itu dua saja, ingin mencoba tom yum dan mango sticky rice asli Thailand. Kenyataannya pas makan, kami tergoda juga untuk mencoba durian sticky rice alias ketan duren. Ini sih rasanya sama persis kayak ketan duren yang sering kami beli di Mampang. Enak semua lah rasanya :D.

Selesai makan, kami mencari tempat charge hp dan wifi. Ada wifi gratis di bandara, kita tinggal minta passwordnya di bagian informasi. Sambil ayah-ibunya cek-cek hp, anaknya main di playground. Playgroundnya cukup luas dan banyak mainan. Ada mobil-mobilan, dan lain-lain. Anak kecil pun senang berlama-lama di situ.

Ketika waktunya boarding, ternyata penerbangan Thai Airways Bangkok - Frankfurt ini digabung dengan penumpang dengan TAP Portugal dan Lufthansa, dengan menggunakan pesawat kepunyaan Thai Airways. Asyiik..kali ini pesawatnya besar dengan Airbus A380. Saya selalu lebih menyukai pesawat besar daripada pesawat kecil, karena pesawat besar lebih tahan terhadap goncangan.

Karena ini rute perjalanan lintas benua, pelayanannya pun lebih OK dibanding dengan yang rute Jakarta - Bangkok. Makanan lebih beragam, ada wifi (tapi bayar), ada On-Demand TV di setiap kursi. Lebih mantapnya lagi, karena membawa balita di bawah dua tahun, kami mendapat kursi kelas ekonomi di baris paling depan yang ruang kaki nya lega. Untuk perjalanan 11 jam lebih bersama batita, saat itu saya merasa siap tempur :D. Sebagian besar penumpang adalah turis dari Jerman dan negara-negara Eropa yang pulang dari berlibur di Thailand.

Selama di perjalanan, untunglah Alif tidak rewel. Jika mengantuk, saya segera menyusuinya (saat itu masih menyusu). Ketika bosan, Alif jalan-jalan atau duduk di depan kursi ayah/ibu. Sempat pup di popok sekali, setelah diganti di toilet, aman dan kembali tenang. Untunglah tidak terjadi drama anak batita nangis terus-terusan selama perjalanan. Kami mendarat mulus di Frankfurt sekitar jam 6 pagi waktu setempat, disambut udara dingin bulan Maret yang menusuk.

Untuk bagasi, saat itu Thai Airways hanya membolehkan bagasi gratis untuk penumpang kelas ekonomi maksimal 25 kg untuk rute internasional antar-benua. Kurang sih untuk bekal kami memulai hidup baru di Jerman :(. Berat masing-masing koper maksimal hanya boleh 25 kg, tidak bisa digabungkan meskipun total bagasi kami untuk dua orang ada 50 kg ditambah jatah bagasi Alif 10 kg. Kami sempat membongkar dan mengurangi muatan koper besar di bandara sebelum check in, agar isinya tidak lebih dari 25 kg. Beberapa minggu lalu ketika mencari tiket untuk pulang ke Indonesia, saya melihat bahwa free bagage allowance Thai Airways sekarang 30 kg! Yipiie...lumayan ya.. Bisa jadi alternatif airlines nih..plus karena akhir-akhir ini juga Thai Airways sering banting harga. Cekidot deh. #bukanendorse #yaiyalah :p.

Untuk membeli tiket Thai Airways bisa dilakukan melalui website atau beli di kantor perwakilan Thai Airways di Jakarta. Saat itu saya membeli langsung di kantor perwakilan karena tidak mempunyai kartu kredit. Oh ya, Thai Airways ini anggota dari Star Alliance bersama dengan Singapore Airlines, Air China, Lufthansa, Turkish Airlines, dan sebagainya. Jadi untuk yang memiliki kartu frequent flyer salah satu perusahaan penerbangan ini, bisa mendapatkan miles jika naik Thai Airways. Sayangnya, karena tiket Thai Airways kami adalah tiket promo, saya tidak bisa mendapatkan miles karena kartu frequent flyer yang saya punya dari Singapore Airlines yang grade nya lebih tinggi daripada Thai Airways. Yasudahlah..mungkin lain kali bisa dapet miles dari penerbangan lain *fakir miles banget anaknya.

Kalo dinilai total, pengalaman kami terbang ke Jerman naik Thai Airways boleh dibilang cukup memuaskan :).

Thai Airways Office Jakarta
Wisma Mandiri II,19Th Floor Jl.MH Thamrin No.5
Jakarta
DKI Jakarta
Indonesia









You Might Also Like

12 comments

  1. Hai mba ...

    Iya memang enak ya naik A380 nih. Sayangnya bandara kita belum mampu menerima kedatangan si pesawat yg menurutku mirip lumba-lumba ini.

    Nice sharing mba, semoga suatu saat bisa ke jerman juga bareng keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak, sayangnya bandara kita belum mendukung ya.

      Amiin 😊
      -Tatat

      Delete
  2. Halo Mba Tatan.

    Tks sharingnya. Saya prnasaran sama makanannya sih sebenernya hehe. Ga afa fotonya yaa? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hua..sayangnya ga ada foto makanan. Soalnya waktu itu saya duduk sambil gendong anak sepanjang perjalanan, ga sempet moto 😣
      -Tatat

      Delete
  3. Teh tatat yaaaa... Aku bayangin selama itu di pesawat dgn balita. Aku aja baru 2 jam udah deg2an 😹 K
    Iyanih aku nunggu fotonyaaa, besok cerita lagi yaa teh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak Uci..itupun deg2an aslinya. Tapi untung lancar dan anaknya ga rewel 😊

      Delete
  4. Replies
    1. Amiin 😊 Tapi Nhae udah jelajah nusantara ke tempat yg keren2 dan bikin mupeng 😍

      Delete
  5. Replies
    1. Iya..tapi kalo dibawa tidur ga terlalu kerasa lama 😊

      Delete