Gunungkidul, Mutiara Tersembunyi Yogyakarta

January 26, 2017


Rumah Joglo Si Mbah Gunung Kidul
Sejauh apapun kaki melangkah, terbang menjauh, meninggalkan kampung halaman, tentu pada hari tua akan kembali ke sana. Besarnya tuntutan pekerjaan yang kerapkali mengharuskan saya terbang melintasi benua tak membuat diri ini lupa akan kewajiban utama sebagai seorang istri dan ibu. Itulah yang kemudian membawa saya turut suami mudik ke kampung halamannya di Gunungkidul, Yogyakarta, beberapa waktu lalu. Meski baru dua kali pasca menikah.

Kali pertama menginjakkan kaki di Gunungkidul, rasa gembira campur deg-degan menyeruak. Sudah lupa rasanya mudik ke kampung halaman. Tak tahu pula apa saya masih dianggap punya kampung halaman. Saya lahir dan besar di Jakarta, kuliah di Jatinangor. Hingga kini baru sekali merasakan mudik ke kampung Bapak di Kuningan dan Rancah, Jawa Barat. Entah apa itu masih bisa dianggap punya kampung halaman. Bisa jadi, Jakarta lah kampung halaman itu. Tempat saya ditempa berbagai hal hingga kini. Diri ini telah terbiasa bertempur melawan kepadatan Jakarta, bertemu dengan manusia-manusia congkak ibukota, menikmati segala hiruk pikuk dan cepatnya deru langkah kaki para pekerja di gedung pencakar langit.

Kecepatan hidup dan rutinitas para pekerja itu kadang membuat saya rindu kehidupan lambat yang seakan tak peduli akan istilah waktu adalah uang. Kehidupan orang-orang di Gunungkidul seakan tak terbebani oleh waktu. Rumah si Mbah berada di Dusun Banaran, Desa Playen, dekat TK Negeri 1 Maret yang juga Monumen Stasiun Radio PC 2. Kehidupan di sana sungguhlah nikmat. Bangun pagi, jalan pagi ke sekitar rumah, memasak sarapan, bercengkerama dengan si Mbah, memberi makan bebek dan ayam, mencuci baju, pergi ke sawah/pasar/tempat kerja lainnya, pergi ke rumah saudara, mengobrol lagi, makan, mengobrol, serta rangkaian kenikmatan hidup lainnya. Rumah-rumah di sekitarnya kebanyakan terbuat dari kayu jati yang tinggal ambil dari pekarangan. Gunungkidul memang kaya akan hutan jati. Oleh karenanya, oleh mertua, suami saya diberi nama Jati. #eh

Nyaris dua tahun sudah saya dan suami tak mudik ke Gunungkidul. Bila melongok feed di Facebook, salah satu kabupaten di Yogyakarta ini nampaknya tengah jadi trending topic banyak wisatawan. Konon di Gunungkidul, banyak mutiara tersembunyi yang kini muncul di permukaan. Ada Gunung Purba Nglanggeran, Gua Jomblang, Gua Pindul, hingga spot rafting baru yang lebih menantang Gua Kalisuci. Tak ketinggalan Curug Luweng Sampang, Pantai Timang, dan Pantai Nglambor (bisa snorkeling juga lho di Yogyakarta!). Duh..jadi ingin sekali ke Gunung Kidul. :')

Embung Nglanggeran

Terakhir kali ke Gunungkidul, saya menyempatkan diri ke Embung Nglanggeran. Embung Nglanggeran ini satu waduk buatan yang terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Waduk mini di atas bukit seluas 0,34 hektar ini untuk pengairan kebun buah seluas 20 hektar. Pemandangan Embung Nglanggeran sangat indah sehingga menjadi tempat wisata bagi pengunjung lokal maupun asing.

Embung Nglanggeran, Gunung Kidul | Foto : Jati Mahatmaji
Kawasan Ekowisata Desa Nglanggeran memiliki potensi pariwisata Gunung Nglanggeran yang kini lebih dikenal dengan sebutan Gunung Api Purba. Gunung Api Purba ini mirip dengan daerah Mingshi Scenic Area di Nanning, China. Gunung batu yang tinggi menjulang itu berasal dari pembekuan magma yang terjadi kurang lebih 60 juta tahun yang lalu.

Selain itu, juga dijumpai fauna dan flora langka seperti tanaman tremas (tanaman obat yang hanya hidup di kawasan ekowisata Gunung Api Purba), kera ekor panjang, serta potensi seni dan budaya lokal seperti bersih desa, upacara adat kirab budaya rasulan, atraksi kesenian jathilan, dan upacara adat masyarakat, dan sebagainya. Potensi ini yang menjadikan Desa Nglanggeran menjadi Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba dan Desa Wisata Pesona Purba Nglanggeran.

Desa wisata dikembangkan menuju desa budaya dan desa pendidikan, dimana pengunjung bisa melakukan belajar mengenai flora fauna, cocok tanam, seni budaya serta belajar hidup bermasyarakat dengan tatakrama setempat (unggah-ungguh). Selain potensi wisata yang dimilliki, Nglanggeran juga ternyata mengembangkan kegiatan ekonominya lewat kerajinan topeng dan gelang berbahan baku kayu dan batik hingga makanan khas dodol kakao dan brownis singkong.

Yang keren dari Desa Wisata Nglanggeran, baru-baru ini dinobatkan menjadi desa wisata terbaik tingkat ASEAN dan meraih penghargaan ASEAN Community Based Tourism (CBT) Award yang diserahkan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. Padahal, Kawasan wisata Gunung Api Purba, Nglanggeran ini cuma dikelola oleh Karang Taruna Desa Nglanggeran.

Desa Nglanggeran, Kec. Patuk, Kab. Gunungkidul, D.I. Yogyakarta
Phone: 081802606050
Email: gunungapipurba@gmail.com
Harga Tiket Masuk
Rp 7.000 (Pagi)
Rp 9.000 (Malam)
Wisatawan asing Rp 12.000
***

Tak punya kampung halaman tak lantas menjadikan kita lupa diri. Kehidupan di kampung nan tenang justru bisa menjadi satu terapi tersendiri. Bapak dan Ibu Mertua yang kini telah pensiun pernah bertestimoni. Mereka justru menikmati masa tuanya dengan bolak balik Jakarta-Kampung. Ibu Mertua pernah bilang kalau dirinya yang seorang pensiunan guru memang tak sanggup bila harus menetap di kampung, menjadi petani dan tidak berinteraksi dengan banyak manusia. Tapi sesekali balik kampung, bagi dia, adalah satu bentuk penghormatan dan ladang pahala dengan turut merawat si Mbah.

"Dia sangat cinta pada republik, revolusi, dia mencintai kampung halamannya, biarpun busuk-busuk membumbungkan gas lumpur dan kotorannya sendiri." - Pramoedya Ananta Toer - Larasati

Tulisan dibuat untuk 1 Minggu 1 Cerita

You Might Also Like

20 comments

  1. Huhuu jogjaaaa ituuu emang keceee yaaaa
    😍😍😍
    Dan emang bener jati tuh kaya banget disana...
    Keren.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaaaaa Ambuuuu..

      Saking banyaknya kayu jati, suka dikirim ke Jakarta buat dibikin lemari atau perkakas lainnya sama Mertua. ������

      Delete
  2. GK,,kampung saya mb. hehe..jadi ikut bangga, mb yg susah melanglang buana ngebahas kampung saya.Eh,saya malah belum nulis nih untuk 1m1c.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayoo nulis mbak. Biar ada cerita lain soal Gunungkidul. Kisah dari si empunya kampung. Hihihi..

      Semangaaatttt!!!

      Delete
  3. Wah, Waduk buatan nya cantik sekali ^_^
    Embung Nglanggeran Gunung Kidul.. q catet dlu deh, sapa tau dapat rejeki jalan-jalan kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk..yuk.. jalan ke Gunungkidul.

      Masih banyak yang bisa dikunjungi. Blom banyak juga nih. Hihihi..

      Delete
  4. Minggu depan aku ke yogya mbaa tapi nggak sampe ke gn kidul. Bagus ya dsana, aku pnasaran tapi brp jam gitu dari yogya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaah..mampir gunungkidul, mbak.
      Biar kekinian. :)))

      Kalau ga salah 1 jam naek motor, 2 jam naek bus deh mbak. #lupa #udahlamagamudik hihi..

      Delete
  5. huaaaa... mudik beneran ini yaaa, hehehe

    semoga lain waktu saya bisa ke gunung kidul, gratis >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa mudik banget. Rumahnya joglo jadul gitu. Jadi beneran berasa di kampung. Hihi..

      Ayooo siapa yang mau bikin giveaway ke Gunungkidul.. :p

      Delete
  6. Jogjaaaa, kapan lagi saya bisa kembali ke sana? huhuhu semoga suatu saat saya bisa menginjakkan kaki ke sana lagi, amiiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin mbak..

      Semoga segera ke Yogya dan menikmati banyak yang indah darinya. :)

      Delete
  7. Hai Tatat..kereeeen tulisanmu..😘😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo..Tulisan tentang Yogya yg keren ini tapi tulisannya Marq..hehe.. Kalo Tatat yang nulis tentang Kuningan :). Jadi kontributor di blog ini ada 4, dua di antaranya (Tatat dan Marq) adalah member 1minggu1cerita. Bisa dilihat di label untuk tahu siapa yang nulis.. Semoga ga bingung yaa ;)

      Delete
  8. yuk ke goa pindul lagi yok haha. mantap pak tulisannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha..terima kasih, Pak.

      Tapi blom pernah ke Goa Pindul. Haha..

      Delete
  9. Liburan tahun lalu ke Jogja tapi gak ke daerah gunung kidul kayaknya.. maklum ngikut aja dibawa jalan-jalan kemana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yahhh..sayang banget.

      Lain kali ke Gunung Kidul donk, lagi kekinian. :))

      Delete
  10. jalan-jalan ke pagenya kakak Tatat,,, duh ya, bikin pengen jalan-jalan beneranlah wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir :D. Sebenarnya ini blog bersama..hehe..di sebelah kanan ada list Kontributornya. Jika ingin tahu siapa menulis apa, bisa diklik di nama-nama tersebut.
      Salam

      Delete