Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH): Lebih Dari Sekedar Bicara Teori

December 12, 2016

PLH, biasa disebut seperti itu, dipendekkan dari Pendidikan Lingkungan Hidup. PLH bukan barang baru di Kota Balikpapan,. PLH muncul tak lama setelah penetapan beruang madu menjadi maskot konservasi Kota Balikpapan. Beberapa saat yang lalu, sudah agak lama tampaknya saya membahas tentang ekodukasi yang saya lakukan bersama teman-teman dengan naungan usaha kami Parakayu. Tapi kali ini, saya akan membahas yang berbeda dari PLH.


Literasi sekarang menjadi isu seksi bagi banyak orang, beberapa menggebu-gebu mengenai betapa muramnya negara Indonesia dalam hal ini. Ketidakmampuan sekolah menghasilkan individu-individu yang berpikir kritis, mempertanyakan sesuatu, tidak sekedar menerima lalu menjalankan tanpa bertanya. Bukankah masih banyak sekolah-sekolah yang begitu tergila-gila dengan metode menghafal, hafalan, dan segala hal yang berkaitan dengan itu. Anak-anak sekolah mulai dari kelas 1 sudah diberi materi segunung yang terlihat begitu berat bagi saya yang sudah berumur ini, cukup jauh berbeda dengan apa yang saya dapatkan dulu. 

Mungkin, selama ini PLH yang diberikan di Kota Balikpapan adalah PLH dimana guru bicara di depan kelas mengenai materi tentang lingkungan hidup yang sudah disiapkan dan murid-murid mendengarkan. Mungkin, sebenarnya PLH hanya sebenar-benarnya adalah formalitas di sekolah-sekolah sehingga tidak begitu banyak anak yang mengenyam PLH lalu keluar menjadi individu-individu yang kritis mengenai isu-isu lingkungan di sekitarnya, mempertanyakan berbagai kebijakan terkait lingkungan, bersikap pro lingkungan, dan lain sebagainya.

PLH yang monoton, PLH yang diisi dengan bicara satu arah antara pemberi materi dan yang diberi materi adalah hal yang berbeda dari PLH yang saya pahami selama ini, PLH yang saya coba adaptasi dalam kegiatan-kegiatan kami. PLH yang saya pelajari adalah PLH yang mengajarkan pendidik untuk menstimulus peserta didik untuk bersikap pro-aktif dan berpikir kritis, melibatkan peserta didik untuk mencari dan menemukan solusi dari setiap masalah lingkungan yang berusaha dipahami dalam studi kasus. Lalu output apa yang diharapkan dari kegiatan menstimulus peserta didik dalam PLH? Outputnya adalah individu-individu yang berpikir kritis, berpikir holistik dan terintegrasi, melihat manusia adalah bagian dari sesuatu yang besar dan setiap tindakan akan mempengaruhi sesuatu yang besar itu. Individu-individu yang akan bergerak menciptakan social movement dalam hal perlindungan lingkungan. 


Jadi, jika ada yang masih memberikan materi PLH satu arah dan mencekoki peserta didik dengan materi-materi yang sepenuhnya tidak dipahami pendidik, lalu menghasilkan peserta didik yang tidak paham dengan materi yang diberikan. Mungkin, bukan mungkin, suatu keharusan pendidik untuk terus meningkatkan pengetahuannya akan konsep dan metode-metode 'menularkan' kepedulian terhadap lingkungan melalui PLH. Toh, pada dasarnya ilmu pengetahuan itu terus bergerak maju, kita yang harus berjalan cepat atau berlari mengimbanginya. Seperti yang saya lakukan saat ini.. *ngosngosan sambil lap keringat*




You Might Also Like

2 comments

  1. "Outputnya adalah individu-individu yang berpikir kritis, berpikir holistik dan terintegrasi, melihat manusia adalah bagian dari sesuatu yang besar dan setiap tindakan akan mempengaruhi sesuatu yang besar itu."

    -Penting banget ini!!! Karena critical thinking adalah kunci

    ReplyDelete
  2. betul sekali sodari tatat, yang selalu ditekankan dari solusi yang selalu menghasilkan permasalahan baru di Indonesia karena solusinya parsial tidak pernah holistik dan terintegrasi *sok analis*

    ReplyDelete