Ayahku Hebat

December 09, 2016


Diskusi 'Ayah Hebat, Keluarga Sehat' MCA Indonesia
Apabila ada pertanyaan satu hal apa yang paling saya syukuri dalam hidup, mungkin jawabannya adalah saya bersyukur karena dikelilingi oleh laki-laki hebat. Para lelaki ini begitu hebat, buat saya, hingga membuat saya ingat satu peribahasa latin:

"amare nilhil est alu, nisi eum ipsi amre, quem amas nulla utilitate quaerita" yang berarti mencintai adalah tiada lain dari mencintai dia yang engkau cintai tanpa sedikitpun mencari keuntungan.

Ada gitu cinta yang tidak tulus? Ada ya cinta yang mengejar keuntungan dari orang yang dicintai? Dulu, pengalaman masa kecil membuat saya berpikir bahwa dominasi dunia oleh kaum pria ini menjadikan laki-laki ga bakal bisa tulus mencintai. #aih Laki-laki yang begitu dimanjakan, tak perlu beberes, tak perlu belajar masak, sekolah aja yang tinggi. Mereka (laki-laki) kemudian bakal berlomba-lomba mencintai perempuan dengan hanya melihat fisiknya. Hingga pada akhirnya konstruksi sosial melihat bagaimana perempuan cantik itu. Berdasarkan selera lelaki. Hih! Apose deh.. #kemudianemosi

Saya muda yang terbawa oleh sistem menjadikan diri ini membenci takdir dilahirkan menjadi perempuan dengan mencintai olahraga sepakbola, bermimpi menjadi pemain sepakbola, pilih bermain dengan saudara/teman-teman pria, dan menikmati hal-hal yang bersifat maskulin. Semua demi ga perlu beberes, belajar masak, bisa sekolah tinggi, dan seterusnya..

Hingga kemudian kuliah dan berkenalan dengan konsep gender. Dari sana, saya kemudian melihat bahwa perempuan juga bisa menguasai dunia. Juga mengenal bahwa lelaki juga bisa berada di ranah domestik. Namun karena sistem masih patriarki, meski kesetaraan gender semakin menguat, lelaki di ranah domestik semakin banyak tanpa mengurangi peran mereka sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama.

Salah satu contoh suami yang menurut saya tulus mencintai tanpa sedikitpun mencari keuntungan adalah Raden Farri Icksan Wibisana. Ayah dari Mentari yang berprofesi sebagai gitaris The Sigit ini rela meninggalkan pekerjaan rutinnya sebagai pekerja kantoran dan kini memilih bekerja dari rumah agar tak ketinggalan momen tumbuh kembang si kecil.

Dalam Diskusi "Ayah Hebat, Keluarga Sehat" yang diselenggarakan oleh Millennium Challenge Account (MCA) Indonesia beberapa waktu lalu, Farri bilang, "Hari pertama Matahari (anak) lahir, perang dimulai.."

Mengapa? Ya, dia harus berperang melawan orangtuanya yang masih beranggapan bahwa lelaki tak mampu mengasuh anak, bahwa ia tak mungkin cukup bisa menafkahi keluarga bila harus bekerja dari rumah, dan sebagainya. Menurut penelitian MCA Indonesia, 80 persen ayah ingin terlibat dalam urusan gizi dan pengasuhan. Tapi 90 persen mertua merasa laki-laki tidak cakap. Hal ini diamini oleh Nur Hasyim dari Aliansi Laki-laki Baru yang berdasarkan penelitiannya disimpulkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pemenuhan gizi anak dinilai masih rendah. Kendala terbesar justru datang dari mertua yang tidak percaya pada menantu laki-lakinya.

Dalam perspektif kesetaraan gender, Dwi Rahayu Yuliawati-Faiz, Direktur Inklusi Sosial dan Gender MCA Indonesia menilai kondisi ini sebagai tantangan. Namun di sisi lain juga menumbuhkan harapan sebab peran gender berbeda dari kodrat.

Peran gender sebenarnya bersifat dinamis, bisa berubah dengan sudah adanya keinginan para ayah untuk terlibat dalam pengasuhan anak. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak seharusnya muncul dari rasa tanggung jawab, bukan sekadar karena merasa kasihan pada istrinya. Kenangan yang baik tentang sosok ayah, akan lebih membekas dan lebih ingin diingat oleh anak-anaknya.

Para Lelaki Hebatku
Hal ini saya ingat betul pada sosok ayah saya. Meski bekerja kantoran, namun Bapak tak akan ragu bila harus memasak buat saya dan adik. Dari beliau, saya tahu bahwa telur dadar akan lebih sedap bila diberikan bawang bombay tumis. Alhamdulillah juga saya mendapatkan jodoh lelaki yang tak segan bila harus terjun langsung ke dapur dan berperang melawan cipratan minyak goreng disaat saya belum bisa memasak maupun saat saya mual parah setiap mencium bau masakan di trimester pertama kehamilan pertama dulu.

Mengurus anak juga dilakukan oleh Bapak dan Pak Suami. Ketika kecil dulu, Bapak seringkali menjaga saya dan adik saat Ibu kuliah lagi. Ia juga sering bermain bersama kami. Satu momen yang saya ingat waktu remaja adalah diajak nonton bareng di bioskop bareng Bapak di Plaza Senayan. Plaza Senayan waktu itu Mall dengan Bioskop Premium di Jakarta dimana yang nonton di sana klo ga artis, ya orang tajir melintir. Gila kan?! Hahaha..buat anak remaja, berasa kekinian banget lah waktu itu. Belom lagi kebaikan Bapak yang setia jadi supir dan bodyguard setiap saya menonton konser musik. Huhu..mungkin itu yang mengajarkan saya untuk mandiri dan bertanggung jawab meski diberi kebebasan.

Bapak dan Pak Suami memberikan saya pengalaman hidup yang begitu luar biasa hebatnya hingga bisa disimpulkan bahwa peribahasa latin di atas adalah benar adanya. Mencintai itu tulus dan tak lekang oleh waktu, tiada lain dari mencintai dia yang engkau cintai tanpa sedikitpun mencari keuntungan.. Semoga saat anak-anak besar nanti, mereka juga akan merasakan pengalaman indah yang juga pernah saya rasakan dengan Bapak. Karena dari seorang Ayah yang Hebat, Keluarga bisa tumbuh Sehat dan Bahagia.. :)

You Might Also Like

9 comments

  1. Aseeeek *komen macam apa ini*
    Tapi serius..ini kampanye yang bagus, bahwa ayah juga harus, mampu, dan bisa terlibat dalam pengurusan anak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahahaha..BETOL! #kepencetcapslock

      Semoga makin banyak Ayah Hebat! :')

      Delete
  2. Memasak, membersihkan rumah memang bukan dominasi kaum perempuan. Bapak di rumah mengajarkan seperti itu. Jadi ingat, dulu kalau weekend Bapak tugas ngasuh. Membawa kita jalan-jalan ke Lapangan sepak bola. Kakak dan adik saya yang laki-laki sekarang juga jago masak. Sayangnya saya enggak jago masak uy....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah..bapak yg keren :). Tapi jangan khawatir..masak bisa dipelajari..kalo kepepet dijamin jadi bisa da :D -tatat

      Delete
  3. SETUJU sama teteh kece ini, sayapun begitu, tidak ada tuntutan pekerjaan domestik harus diselesaikan oleh istri, jadi urusan jaga anak bahkan mencuci pakaian diselesaikan sama pak suami hehhee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha..mari kita ubah cara pandang pria maupun sekitar agar melihat pekerjaan domestik sebagai life skill, tidak dipandang sebelah mata. :D

      Delete
  4. memang harus menjadi ayah yang hebat. Eh itu bapak Jati suami hebat sekali itu.

    ReplyDelete