Muara Tae (3) : Upacara Adat Piring Putih

November 15, 2016

Upacara Adat Piring Putih. Ini adalah kegiatan yang menyambut saya, pertama kali saya menginjakkan kaki di Muara Tae, Kutai Barat, di rumah Bapak Petrus Asuy, mantan pemuka adat yang pernah meraih Equator Prize dari UNDP pada tahun 2015 di Paris, Perancis. Saat itu, rumah dipenuhi oleh kelompok warga yang akan mengikuti upacara adat piring putih. Apa sih upacara adat piring putih itu? secara sederhana dapat saya dijelaskan, penyerahan piring putih adalah wujud komitmen kelompok warga Muara Tae yang kontra perusahaan sawit untuk tidak menjual lahan mereka kepada perusahaan sawit. 

Konflik lahan antara masyarakat adat dan perusahaan sawit di Muara Tae adalah hal yang hingga saat ini masih berlangsung. Bagaimanapun juga, masih banyak dari warga yang hidup dengan cara ladang berpindah dan tentu saja keberadaan  dan luasnya lahan untuk kegiatan berladang menjadi sangat penting. Lain kali, saya akan ceritakan mekanisme ladang berpindah masyarakat adat dayak benuaq di Muara Tae.

Bapak Andreas Singko (Kiri) dan Bapak Petrus Asuy (Kanan)
Kembali pada prosesi upacara piring putih yang ingin saya ceritakan, malam itu ada sekitar 40 warga yang berkumpul untuk menyerahkan piring putih dan menyatakan perjuangan mereka untuk mempertahankan lahannya. Prosesi dipimpin oleh Bapak Andreas Singko, bapak ini seperti dukun/orang pintar yang menguasai ritual adat dan Bapak Petrus Asuy sebagai pentolan kelompok kontra sawit. Dalam prosesi ini, yang disediakan tentu saja piring berwarna putih, beras berwarna kuning, telor ayam mentah, dan pisau. Saya dan teman-teman sempat loh, diberi beras kuning pada kening saya lalu ditempeli pisau di muka saya. Hal ini dilakukan, sebagai wujud penerimaan mereka kepada kami sebagai pendamping.

Piring putih yang diberikan kepada pendamping 
Setelah pemberian beras kuning kepada beberapa wakil yang representatif, lalu masing-masing warga memberikan piring putih kepada Pak Asuy, piring itu ditulisi nama warga yang menyerahkan agar dapat menjadi bukti dukungan, komitmen, dan perjuangan bersama. Upacara piring putih ini tidak hanya sekedar memberikan piring lalu selesai, sebenarnya prosesi ritual ini sakral dalam masyarakat adat dayak benuaq karena pemberian piring ini artinya berjanji untuk berkomitmen, tidak mengingkari jika tidak mau kena musibah.

Sebenarnya, setelah prosesi upacara adat piring putih ini, masih banyak hal lain yang harus dilakukan kelompok warga kontra sawit ini untuk mempertahankan lahannya dari tekanan perluasan lahan sawit. Hal itu, tentu saja akan sulit dilakukan tanpa bantuan dari luar karena keterbatasan sumberdaya yang mereka miliki. Saat pertama kali tiba di sana, saya benar-benar awam akan konflik yang melibatkan masyarakat adat, khususnya konflik antara masyarakat adat Muara Tae dan perusahaan sawit. Belakangan, saya berpikir, betapa sayangnya merelakan lahan yang kaya akan sumberdaya hayati, tumbuhan kayu eksotis, anggrek beraneka jenis, tumbuh-tumbuhan obat, gua-gua kuno, belum lagi kekayaan satwa hutan kalimantan hanya untuk satu jenis tanaman yang dikelola tanpa memperhatikan keberlangsungan kehidupan alam dan manusianya. 

Muara Tae, salah satu contoh dari sekian banyak, tempat yang kaya akan biodiversitas dan juga kaya akan budaya tapi justru harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang sudah mereka miliki ratusan tahun. Sesuatu yang berharga, sebuah potensi ekowisata, tidak hanya untuk mereka tapi juga untuk orang-orang dari luar seperti saya ini, juga untuk Indonesia dan dunia.

*) Terimakasih banyak Bestifitraini untuk foto-fotonya

You Might Also Like

0 comments