Sawit : Hijau Baru di Hutan Kalimantan

October 29, 2016

Kali ini saya akan bercerita tentang sawit, perkebunan sawit lebih tepatnya karena selama beberapa kali bolak-balik dari Kota Balikpapan - Muara Tae, Kutai Barat, perkebunan sawit super luas terpampang di depan mata saya. Sawit selalu kontroversial di Indonesia, menimbulkan berbagai polemik, terutama kerusakan lingkungan. Alih fungsi besar-besaran dari hutan hujan tropis menjadi perkebunan sawit yang katanya menghasilkan keuntungan bagi negara.

Sawit pernah diakomodasi sebagai bagian dari tanaman hutan. Tentu saja peraturan ini membuat terkejut bagi para pecinta lingkungan, saya yakin banyak yang berkomentar, "Bercanda nih Pak Menteri.. bercanda pasti.". Nyatanya Bapak Menteri Zulkifli Hasan tidak bercanda karena sawit sebagai tanaman hutan dimasukkan ke dalam Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) yang dikeluarkan pada 25 Agustus 2011. Benar saja, permenhut ini kemudian menuai berbagai kecaman.

Anak-anak sawit yang masih kecil-kecil.
Selama perjalanan melewati perkebunan sawit, saya melihat banyak hal kontradiktif. Saya tidak melihat desa atau kampung yang lahannya didominasi sawit mayoritas penduduknya memiliki perekonomian yang baik. Saya seringkali menemukan kampung-kampung itu hidup tanpa aliran listrik. Bahkan penduduk yang awalnya adalah pemilik lahan kemudian berubah menjadi buruh perkebunan sawit di lahan yang dulu adalah miliknya. Saya tidak mengerti apakah ini memang seharusnya atau ada yang salah dengan hal ini?

Buruh-buruh perkebunan sawit juga banyak yang berasal dari luar, kebanyakan yang saya lihat berasal dari Flores dan sekitarnya. Mereka diberi tempat tinggal di dalam perkebunan sawit. Menurut saya, tempat tinggalnya juga tidak cukup layak. Saya membayangkan suasana perkampungan buruh itu saat malam tiba, berada di tengah perkebunan, jauh dari pusat kampung dengan aliran listrik dan aliran air seadanya. Membangun keluarga dan membesarkan anak di lingkungan seperti itu pasti berat sekali.

Perkebunan sawit itu dilematis. Di satu sisi, begitu banyak produk yang membutuhkan sawit sebagai salah satu bahan bakunya, di sisi lain perkebunan sawit yang ada jauh dari konsep keberlanjutan. Perkebunan sawit dibuka pada lokasi yang dekat dengan sumber air seperti mata air dan sungai. Tanaman sawit yang rakus air menguras sumber air yang sebelumnya dimanfaatkan warga kampung menjadi tidak lagi bisa dimanfaatkan. Pupuk sisa perkebunan sawit yang terbawa hujan mencemari sumber-sumber air sehingga menyebabkan air menjadi tidak layak untuk dikonsumsi. Belum lagi, masalah politis, korupsi yang mengikuti izin pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dan tumpang tindih kepemilikan lahan sawit yang kemudian menimbulkan konflik horizontal dan vertikal. Sawit bikin rumit!

Saya memang tidak paham tentang sawit, tapi sebagai seorang warga negara yang memiliki salah satu hutan terkaya di dunia, kok rasanya sedih ya melihat sawit-sawit menggantikan pohon-pohon kayu nan eksotis, mengusir satwa-satwa hampir punah dari habitatnya, membuat satwa-satwa langka menjadi kumpulan hama di lahan sawit dan seringkali dibunuh untuk melindungi buah sawit. Saya kok rasanya sedih, lihat sungai-sungai yang awalnya jernih menjadi keruh dan juga tertutup tanaman gulma, sedih melihat para pemilik lahan yang biasa berladang menjadi buruh di lahannya sendiri, sedih mengetahui CPO diimpor ke negara yang vokal terhadap isu-isu lingkungan, sedih mendengar isu perbudakan dalam perkebunan sawit. Saya sedih melihat sawit yang sudah merebut kekayaan hayati hutan Kalimantan tidak juga memberi perubahan ekonomi lebih baik bagi manusianya.

Lalu setelah menulis tentang jahatnya sawit, bisa jadi saya kemudian makan biscuit yang salah satu bahan dasarnya berasal dari olahan sawit, yang ternyata perkebunan sawitnya menimbulkan konflik sosial juga kerusakan lingkungan. Sawit... sawit.. *sigh

*) Terimakasih Bestifitraini u/ foto-fotonya.


You Might Also Like

0 comments