Muara Tae (2) : Hutan Adat Utaq Malinau

September 21, 2016




Meneruskan cerita kunjungan kami ke Muara Tae, perjalanan selanjutnya menuju Utaq Malinau cukup menantang. Kami yang saat itu hanya mengendarai city car harus hati-hati melewati medan jalan di sekitaran area sawit. Bekas-bekas aliran air saat hujan, membuat parit-parit kecil aliran air pada jalan sehingga bisa menyebabkan roda mobil terperosok. Selain sawit, kami juga melihat bekas pertambangan yang sudah tidak aktif lagi sehingga membentuk danau. 


Jalan Menuju Utaq Malinau



Danau yang Terbentuk dari Aktifitas Pertambangan


Hutan Adat Utaq Malinau, berdampingan dengan perkebunan sawit luas. Menjelajahi Utaq Malinau jadi agenda kami selama berada di Muara Tae. Hutan dengan luas keseluruhan sekitar 177 Ha ini pernah mengalami kebakaran pada tahun 1997/1998 saat El Nino melanda, tentu saja hal ini membawa perubahan dalam vegetasi yang berada di Hutan Malinau karena hutan primer digantikan dengan hutan muda.

Kami memilih jalur trekking yang tidak terlalu jauh, bisa dikatakan jalur pendek, mengingat waktu dan tenaga yang kami miliki. Selama melakukan perjalanan di dalam hutan, kami disuguhi dengan berbagai pohon kayu khas hutan Kalimantan, seperti : ulin, meranti, bengkirai, dsb. Banyak pohon dengan ukuran-ukuran super besar yang tinggi menjulang. Kami juga menemukan potongan kayu ulin yang belum diangkut dari aktivitas penebangan liar (illegal logging) yang dilakukan oleh masyarakat sekitar.



Pohon-pohon Berukuran Besar di Utaq Malinau


Aktivitas Penebangan Liar Ilegal di Utaq Malinau

Salah satu pohon besar dengan tinggi menjulang adalah pohon siamang/sialang (Koompassia excelsa) atau masyarakat lokal menyebutnya pohon benris. Pohon ini memiliki nilai konservasi tinggi karena merupakan rumah bagi berkoloni-koloni lebah. Seperti yang kita ketahui, lebah memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Dalam satu pohon sialang, dalam kondisi optimalnya dapat menjadi rumah bagi 100 koloni lebah dan dalam setiap koloni lebah dapat menghasilkan madu sebanyak 5L. 

Mengingat fungsinya sebagai rumah bagi koloni lebah. Sialang tidak dapat berdiri sendiri dan harus didukung oleh keanekaan di sekitarnya. Sehingga, dalam aturannya jika ada suatu wilayah memiliki pohon Sialang di dalamnya, maka wilayah itu tidak dapat dibuka untuk menjaga kehidupan sialang.  Namun, kenyataannya tentu saja tidak selalu sama seperti aturan yang tertulis, karena sepanjang jalan menuju Utaq Malinau, kami melihat beberapa pohon sialang yang berdiri sendiri dengan kondisi hampir mati dan berada di tengah-tengah perkebunan sawit.

(kiri) Sialang di dalam Hutan; (kanan) Sialang di Tengah Perkebunan.


Sarang Semut Madu Pada Salah Satu Pohon


Kumpulan Anggrek Liar Pada Pucuk Ranting Pohon


Selama berada di Utaq Malinau, tidak banyak satwa liar yang terlihat, selain karena saat itu hari sudah sangat siang, kami mungkin menimbulkan kegaduhan sehingga menyebabkan satwa lari atau bersembunyi. Kami hanya melihat ayam hutan, jejak kaki beruang madu, liang persembunyian landak, sarang dari semut madu dan mendengar suara teriakan monyet serta mendengar kicau merdu burung-burung liar. Itu saja cukup merepresentasikan keanekaan yang dimiliki hutan Kalimantan. Mengingat kekayaan hutan Indonesia yang seperti ini, terus didesak dan digantikan dengan tanaman homogen seperti kelapa sawit tanpa konsep keberlanjutan, tentu saja menimbulkan perasaan miris. Semoga saja, anak cucu saya nanti masih bisa menikmati hal-hal indah yang diberikan oleh hutan. 


You Might Also Like

2 comments

  1. Amin.. Mba, ini hutannya sepi satwa ya... Suka aku lihatnya

    ReplyDelete
  2. halo Mb Suci, sebenarnya kalo mau pergi ke hutan, dilakukan pagi sekali, sehabis shalat subuh, karena satwa diurnal sudah mulai beraktivitas pada waktu itu. pada saat jam 10 mereka sudah leyeh2 dan mulai aktif lagi mendekati magrib (siap-siap pulang ke rumah dan istirahat) dan sehabis magrib, yg aktif satwa nokturnal (beruang madu, dkk). saat kami ke utaq malinau, sudah jam 13.00.

    yuk 'main' ke utaq malinau :)

    ReplyDelete