Muara Tae (1) : Ulap Doyo - Konservasi dalam Pernik Budaya

September 06, 2016


Beberapa saat yang lalu, saya diberi kesempatan untuk mengunjungi Muara Tae, sebuah kampung kaya budaya yang terletak di Kutai Barat. Muara Tae yang terkepung perkebunan kelapa sawit dan tambang batu bara. Muara Tae yang tanpa aliran listrik PLN dan aliran pipa PDAM memuat banyak hal menarik yang bisa saya ceritakan. Salah satunya adalah tentang Tenun Ulap Doyo. Sebuah tenun khas dayak benuaq yang benangnya berasal dari tumbuhan doyo.

Doyo, merupakan tumbuhan semak, yang biasa ditemukan di hutan dan kebun karet di sekitaran Muara Tae sebelum kebakaran besar El Nino tahun 1997/1998 melanda. Setelah kebakaran, lahan dan kebun beralih menjadi kebun sawit dan pertambangan, doyo tidak semudah dulu untuk ditemukan. Tenun Ulap Doyo yang biasa dikerjakan oleh kaum wanita untuk membantu menyokong ekonomi keluarga tidak lagi populer digeluti, kaum muda tidak lagi banyak yang tertarik untuk menjadi pengrajin ulap doyo. Kekayaan motif ulap doyo yang diberikan turun temurun melalui latihan tanpa buku panduan pun mengalami penyusutan. 

Hari itu, saya berkesempatan pergi ke Kampung Mancong, kampung tetangga Muara Tae yang merupakan pusat kerajinan Ulap Doyo di daerah itu. Para wanita pengrajin ulap doyo berkumpul untuk bertukar informasi, mendapatkan informasi dan pelatihan. Mereka dilatih untuk memberikan pewarnaan alami benang doyo hingga manajemen keuangan agar mereka dapat menjadi pengrajin yang maju dan mandiri.


Rumah Adat Lamin di Mancong yang berusia hampir 400 tahun.


Kampung Mancong - Pusat Kerajinan Tenun Ulap Doyo

Proses pembuatan tenun ulap doyo diawali dengan mendapatkan daun doyo dari sekitaran hutan, kebun karet, ladang, atau lahan bekas tambang. Daun doyo kemudian dicuci, dibersihkan, dan dipisahkan serat-seratnya untuk menjadi bahan baku benang doyo. 

Proses Pencucian Daun Doyo

Benang doyo mengalami proses pewarnaan dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti menggunakan daun jambu untuk warna hitam/abu tua dan tumbuhan teruja untuk warna merah. Menurut para pengrajin, proses pewarnaan adalah proses yang paling rumit sehingga tidak semua pengrajin memiliki keahlian dalam hal ini. Pewarnaan benang doyo disesuaikan dengan motif yang akan dibuat. 


Benang Doyo dipersiapan untuk proses pewarnaan.

Benang-benang doyo beraneka warna kemudian ditenun sesuai motif yang diinginkan pasar. Benang doyo dikombinasikan dengan benang-benang pabrikan yang diperoleh dari Kampung Lempunan, Pentat, dan Muara Nanya. Saat ini, selain karena kekayaan motif ulap doyo tidak pernah dituliskan, hanya diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, permintaan ulap doyo yang mementingkan kuantitas dibandingkan kualitas membuat motif yang dibuat menjadi semakin sederhana. Kain-kain doyo ini kemudian didistribusikan di wilayah Kutai Barat, Tenggarong, dan Samarinda.

Benang Doyo beraneka warna dengan pewarna alami.


Pengrajin Tenun Ulap Doyo asal Muara Tae yang ikut pelatihan di Mancong.

Saya melihat, begitu erat kaitan antara kerajinan tenun ulap doyo dengan keberlangsungan hutan di sekitaran Muara Tae dan Mancong. Bagaimana doyo yang merupakan bahan dasar dari kain tenun ulap doyo banyak hidup pada hutan-hutan yang terjaga kelestariannya, bagaimana proses pencucian doyo di sungai membutuhkan hutan-hutan untuk membuat air sungai tetap mengalir sepanjang tahun, bagaimana kelestarian hutan menjaga tumbuhan-tumbuhan pewarna benang doyo tetap lestari, dan bagaimana hutan dan segala isinya memberikan inspirasi motif pada kain tenun ulap doyo. Bagaimana nenek moyang melalui pernik budaya berusaha melakukan konservasi alam.


*Terimakasih Bestifitraini untuk bantuan dokumentasinya. 

Bagian selanjutnya dari perjalanan ke Muara Tae bisa dibaca di sini.




You Might Also Like

0 comments