Terdampar di Nanning dan Guangzhou, Tiongkok

August 02, 2016

Belakangan ini saya mumet. Ga bisa nulis sama sekali. Ga mau lihat dan nyentuh blog ini. Bahkan sampai ga setor tulisan ke #1minggu1cerita. Sedih banget tapi memang ga bisa. Huhuhu.. Hingga akhirnya tetiba ingat satu kisah saat terdampar di Nanning dan Guangzhou, China, beberapa tahun lalu.


Mari kita naik mesin waktu ke Maret 2013, waktu itu baru menikah. Alih-alih memperpanjang bulan madu, saya malah ditugaskan pergi menemani Ibu Direktur meeting ke Nanning, China. Bagi saya, China adalah negara maju yang unik. Tak seperti negara besar di Eropa, negara ini sungguh ramai. Sangat ramai, bahkan.. Tapi anehnya, diantara sekian ribu orang yang saya temui dalam perjalanan kurang lebih lima hari di China, jarang menemukan manusia yang bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Cerita satu kali saya di kota Nanning pernah dituliskan di sini.

Guangzhou Baiyun International Airport. Pic from Wikipedia
Inilah salah satu faktor yang membuat saya dan Ibu Direktur bagai anak hilang di Bandara Nanning juga Guangzhou saat mau terbang kembali ke Jakarta. Untuk bisa pulang, kami harus menempuh perjalanan tak sampai satu jam ke Guangzhou dan selanjutnya terbang ke Jakarta. Dari Nanning, jadwal penerbangan sekitar pukul 12.00. Sementara dari Guangzhou sekitar pukul 17.00. Semua penerbangan dilakukan dengan China Southern Airlines.

Saat itu cuaca di Nanning agak mendung. Ketika waktu boarding tiba, anehnya tak ada tanda-tanda pintu dibuka. Para penumpang lain disekitar kami juga terlihat santai. Tak ada yang aneh. Kami hanya bisa membaca pengumuman dalam tulisan latin yang tertulis di papan pengumuman karena pengumuman lisan di bandara pun tak berbahasa Inggris.

Tak sadar, tulisan pada papan pengumuman boarding sudah berubah menjadi tujuan lain. Kamipun bingung. Penumpang lain padahal masih duduk manis ditempatnya. Kami pikir, oh mungkin ganti gate. Tak lama, ground staff membawa kami naik kembali ke ruang tunggu biasa. Kami pikir tak akan lama. Jadi kami berbelanja buah tangan buat teman-teman di kantor dan mencari makanan untuk mengganjal perut yang mulai berbunyi. Bismillah, sambil berdoa semoga mi instan dalam cup yang kami makan saat itu halal adanya. Maklum, tak ada yang bisa ditanya dan mengerti..

Kian lama menunggu..tak ada kepastian. Kami harus segera ke Guangzhou agar tak ketinggalan pesawat menuju Jakarta. Ibu Direktur mulai panik tapi tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu. Setelah tiga jam di Bandara tanpa makanan dari pihak airlines, pulang lantas menjadi keinginan utama kami. Sudah tidak ada hasrat buat jalan-jalan di kota hijau China itu. Nyaris seminggu berada di sana sudah lebih dari cukup. Hingga petugas akhirnya mengarahkan kami untuk naik bus. Kami dibawa ke hotel untuk beristirahat dan disuguhi makan siang yang terlambat. Menu makan siang khas China, sayur bayam yang direbus dengan orak arik telur juga nasi dan daging yang tidak kami makan karena ragu itu halal.

Ternyata China Southern Airlines menuju Guangzhou gagal diterbangkan karena cuaca buruk di Guangzhou yang menyebabkan bandara ditutup sementara hingga cuaca membaik. Tak lama duduk selonjor di hotel, kami diberitahu untuk bergegas ke bus dan kembali ke bandara karena pesawat akan segera diberangkatkan. Namun, saat itu sudah petang atau sekitar pukul 17.00. Punah sudah cita-cita kami untuk bisa pulang ke Jakarta sesuai jadwal..

Nanning Wuxu International Airport. Pic from Wikipedia
Begitu tiba di Guangzhou, Ibu Direktur langsung mengajak saya ke konter customer service China Southern Airlines. Di sana ternyata sudah dipenuhi kerumunan penumpang, mayoritas turis asing, dengan permasalahannya masing-masing. Ditutupnya bandara Guangzhou ternyata memakan banyak korban. Kebanyakan harus ketinggalan pesawat karena setelah ditutup, pesawat harus segera diterbangkan agar pesawat yang menuju Guangzhou dapat mendarat dan parkir. Lagi-lagi penumpang lokal cenderung santai menghadapi situasi seperti ini. Untungnya.. Guangzhou sedikit lebih ramah turis asing. Pelayanan berbahasa Inggris jauh lebih memadai dan pihak customer service juga bisa menangani permasalahan dengan baik. Barang di bagasi juga dipastikan aman bakal tiba di Jakarta bersama kami selama tidak diambil malam itu. Namun dikarenakan semua pesawat menuju Jakarta pada hari itu sudah habis, akhirnya kami terpaksa harus menginap satu malam di Guangzhou dan diberikan tiket ke Jakarta pada besok paginya.

Malam itu, kami diberikan makan malam di hotel transit yang disediakan China Southern Airlines. Menu makanan kembali sayur rebus sedikit garam dengan telur orak arik dan nasi. Ah..andai ada tempe goreng dan sambal di sana, pasti langsung ludes. Tenaga kami sudah habis. Obat-obatan milik Ibu Direkturpun tak bisa diminum karena ada di koper di bagasi. Begitu masuk ke kamar hotel, bersih-bersih, lanjut tidur.

Begitu bangun di pagi hari, kami mandi dan berpakaian dengan baju yang sama, sarapan seadanya kemudian bergegas naik bus menuju bandara. Tiba di bandara, kami lantas segera check-in. Lebih baik lama di bandara ketimbang harus kembali terjebak di China. Ibu Direktur terlihat lebih cerah. Ia mengajak saya pijat refleksi dan berbelanja. Ini dia yang disebut "Travel with Style" ala Ibu Direktur. Saya mah cuma bisa ngintil kesana kemari. Maklum..saya cuma remah kremesan sisa goreng ayam. Huhuhu..

Andai saat itu Tulus sudah menulis lagu "Ruang Sendiri", mungkin akan menjadi lagu latar perjalanan saya terdampar di Tiongkok. Cuaca buruk tak akan bertahan selamanya karena setelahnya matahari akan timbul dan membawa sinar dibalik awan kelabu. Seperti testpack yang menunjukkan dua garis sepulangnya saya dari Tiongkok.


Kita butuh ruang
Kita tetap butuh ruang sendiri-sendiri
Untuk tetap menghargai rasanya sepi


You Might Also Like

5 comments

  1. jalan jalannya jauh ih. jadi jarang petunjuk bahasa inggris ya disono...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Ayah Arden..
      Klo ke China yang bukan kota besar, kemungkinan nyasar besar banget.
      Komunikasinya pake bahasa kalbu.. 😁

      Delete
  2. Pergi bareng bubospun jadi petualangan seru :)
    YIHA!

    ReplyDelete
  3. Hahaha..iya banget, teh.
    Bubospun akhirnya berpetualang bareng saya. Padahal biasanya perjalanan dia mulus dengan fasilitas premium. 😋

    ReplyDelete
  4. Halo Kak, lagi surfing blog tntg pengalaman orang naik KLM. Dan mendarat di sini.
    Mau tanya donk,
    Rencana saya akan terbang menuju Bristol (transit di Schipol) dengan menggunakan KLM. saya baca di web KLM utk kelas eko bagasi yang diperbolehkan maksimal 23kg, dimensi maks. 158cm.
    Sementara bagasi saya dimensinya 167cm, meski berat < 23kg.
    Pd saat cek in apakah ukuran bagasi juga diukur? Atau hanya berat saja?
    Berharap sih semoga peraturan ini ga strict spt yg tertulis.
    Thanks in advance anw!

    ReplyDelete