Bertualang di Dhaka

February 14, 2014

Tetiba teringat perjalanan yang empat tahun lalu saya lakukan ke Bangladesh, sebuah negara di Asia Selatan yang kalah terkenal dibanding saudara serumpunnya, India. Bangladesh adalah negara asal Muhammad Yunus - pemilik ide Grameen Bank, penerima Nobel Perdamaian tahun 2006.

Seperti biasa, sebelum berangkat Saya sempatkan untuk melakukan riset kecil mengenai Bangladesh dan Dhaka. Banyak info berseliweran..di antaranya terkait dengan rendahnya kualitas air di sana. Beberapa situs menyarankan untuk selalu minum dari air botol ketika di Bangladesh. Okay..Saya ingat-ingat info penting ini. Sampai di Dhaka malam hari, dan sehabis hujan. Jalanan sepi dan basah. Pertokoan pun sudah tutup. Yang pertama terlintas dalam benak saya menyaksikan jalanan dan pertokoan Dhaka adalah: mirip pasar Senen! Haha..

Keesokan harinya di siang hari, tentu saja pemandangan kota lebih berwarna. Suasana kota memang cukup padat, jalan raya penuh dengan berbagai jenis kendaraan. Kendaraan-kendaraan di Dhaka terlihat sudah tua, seumuran dengan metro mini, bajaj dan kopaja di Jakarta. Mobil-mobil pribadi dan taksi pun lebih banyak yang keluaran lawas. Serasa sedang nonton film India jaman SD, lengkap dengan tokoh-tokohnya seliweran depan mata :p *ketauan deh tontonannya

Kendaraan sejenis bajaj pun berseliweran di jalanan Dhaka. Bedanya dengan bajaj oranye khas Jakarta, bajaj di Dhaka berwarna hijau dan bagian tempat duduk sopirnya dilindungi jeruji besi. Jeruji ini berfungsi untuk melindungi sopir dari kriminalitas yang angkanya cukup tinggi di Dhaka.


Yang juga perlu diperhatikan di jalanan Dhaka, kita harus selalu waspada ketika jalan kaki disekitar Dhaka. Seringkali kendaraan nyelonong tanpa aba-aba dan membahayakan pejalan kaki. *sure you must be familiar with this, Indonesian. Oh ya, harap jangan ge-er dulu jika kita sedang jalan kaki di jalanan Dhaka dan diliatin orang lokal dengan sangat antusias! Bukan..bukan karena anda dikira mirip artis..tapi karena orang asing sangat jarang terlihat di jalanan kota. Mereka akan menatap dari dekat dengan pandangan terheran-heran..seolah-olah kita makhluk aneh -_-

Di pinggiran jalan Dhaka banyak terdapat berbagai macam barang dijual, mulai dari makanan, buah-buahan, buku, dan lain-lain.

Saya sempat mampir ke penjual buku di pinggir jalan yang suasananya mirip di Kuitang. Sayang sekali saat itu saya tidak punya banyak waktu untuk nongkrongin dan ngamatin buku-buku itu lebih detail :(

Pengalaman paling tak terlupakan di Dhaka adalah ketika harus naik riksha (rickshaw) membelah kota Dhaka yang super padat di sore hari, dari hotel menuju pelabuhan di tepi Sungai Buriganga. Waktu yang tersedia saat itu cukup mepet, jam keberangkatan kapal besar yang akan saya naiki semakin dekat. Agar tidak terlambat, seorang teman memerintahkan penarik riksha untuk ngebut. Woow..banget deh.

Beberapa kali riksha yang Saya naiki hampir nabrak, baik nabrak orang, nabrak mobil, ataupun nabrak riksha lain! Sempat Saya suruh si abangnya untuk jalan lebih pelan, tapi dia bilang jika jalan pelan, Saya akan ketinggalan kapal. Ukh! Akhirnya meskipun sambil oleng-oleng, abang riksha ini berhasil mengantarkan Saya tepat waktu ke pelabuhan. Piuuh...Memang betul, jika saat itu Saya memutuskan naik taksi atau bus menuju pelabuhan, pasti bakal terlambat. Fungsi riksha ini mirip ojek di jalanan Jakarta. Dia bisa nyelip-nyelip dan nerobos sesuka hati. Tapi kalo ga kepepet sih, bilang ke penariknya biar dia ga ngebut, jadi kita bisa sedikit santai menikmati Dhaka.
riksha nya kayak gini, dan penumpangnya seberat Saya :D
Nah sekarang lanjut ke bagian yang disukai cecewe yaitu belanja oleh-oleh. Meskipun budget sangat-sangat terbatas saat itu, Saya gegayaan aja ikut teman-teman ke pusat perbelanjaan. Sebuah gedung yang mirip dengan Pasar Baru Bandung. Di sana, seperti layaknya mall (atau ITC), segala benda bisa ditemui. Mulai dari tempat makan dan nongkrong, toko baju, souvenir, dll. Toko yang menarik perhatian Saya tentu toko souvenir, untuk buah tangan sanak saudara dan kawan di Tanah Air. 

Sayang sekali, Saya harus mengakhiri petualangan di Dhaka karena harus segera melanjutkan perjalanan ke kota lain. We'll see you again, I hope!

Petualangan lain mengarungi Sungai Burigangga di Bangladesh bisa dibaca di sini.

How to get there:
Rekomendasi penerbangan dari Jakarta menuju Dhaka: Singapore Airlines, Malaysia Airlines, Tiger Air.
WNI yang ingin melakukan perjalanan ke Bangladesh memerlukan visa. Silakan hubungi Kedutaan Bangladesh di alamat berikut ini untuk pengurusan visa:
Jl. Denpasar Raya 3, Block A-13 Kav. 10, Kuningan
Telepon : (021) 525-1986 / 522-1574 Fax : (021) 526-1807

You Might Also Like

0 comments